Pages

Selasa, 05 Mei 2015

Siem Reap bukan hanya Angkor Wat

             Namanya Mr. Kham, umur sekitar 45 tahun, berkulit sawo matang. Ya, dia yang akan mengantarkan sekaligus menjadi tour guide ku untuk berkeliling Siem Reap dan Angkor Wat hari ini. Aku hanya punya waktu 9 jam sebelum berangkat ke kota berikutnya, Phnom Penh. Segera aku minta untuk mengantarkanku ke Kaunter Tiket masuk Angkor Wat. Ditengah perjalanan kami berbincang-bincang. Dari situ aku tau bahwa dia sudah bekerja sebagai tukang ojek selama kurang lebih 15 tahun, dari mulai Angkor Wat yang belum terkenal, sampai dikunjungi oleh banyak wisatawan seperti sekarang. Dia belajar bahasa Inggris bukan dari sekolah formal,  tapi dari sesama tour guide. Dari situ, dia mulai berlatih untuk bisa menjelaskan segala hal tentang Angkor Wat.
            Sampai juga di Kaunter Tiket setelah 15 menit perjalanan. Harga masuk Angkor Wat untuk satu hari adalah $20. Harga yang cukup mencekik bagi para Turis, cukup mahal juga jika dibandingkan dengan tiket masuk Candi Borobudur atau Candi Prambanan. Mungkin ini yang jadi devisa paling besar bagi Kota Siem Reap : Uang Turis. Promosi yang gencar dari pemerintah Kamboja sekaligus pernah dijadikan tempat syuting film Tomb Rider yang dibintangi oleh Angelina Jolie menjadikan Angkor Wat salah satu destinasi wisata yang menarik dikunjungi di Asia Tenggara. Aku jadi makin penasaran seberapa megah kah Angkor Wat jika dibandingkan dengan Candi-candi di Indonesia. Aku simpan rasa penasaranku karena perut yang minta diisi. Aku minta diantarkan dulu untuk makan siang ke restaurant muslim. Dia bilang dia tau dimana letaknya. Kita pun meluncur kesana.
            Masuk jalan dan gang gang kecil, sampailah aku di restaurant muslim itu. “Cambodian Muslim Restaurant”, ya begitulah kira-kira namanya. Saat itu restaurant sepi sekali. Tak ada satu pun pengunjung.
Aku memesan menu yang paling murah, ayam cincang dan 2 porsi nasi.  Ini caraku agar bisa tetap bertenaga saat travelling. Setelah selesai makan, aku minta diantarkan ke Masjid untuk sholat. Aku sebenarnya tak yakin ada Masjid disini, tapi kata penjaga restaurant yang juga seorang muslim, ada masjid tidak jauh dari sini. Dan aku hampir saja lupa kalau hari ini adalah hari Jumat. Aku baru sadar saat menuju Masjid, dimana banyak orang-orang yang menuju ke tempat yang sama. Populasi muslim disini cukup banyak, Aku agak kaget juga. Di negara yang dahulu terkenal dengan genosida nya ini, populasi muslim masih bisa bertahan, bahkan terus berkembang. Mr. Kham menyalakan motornya. Dia dengan sabar menungguku menyelesaikan urusan perutku. Setelah memberikan sejumlah Dollar kepada pemilik restauran, kami menuju masjid. Jaraknya sekitar 10 menit dari restauran. Ditengah perjalanan, aku melihat puluhan laki-laki dengan pakaian khas arab berjalan ke arah yang sama.
Who are they, Mr.Kham?” tanyaku.
They are muslim people, same as you. There is only one mosque nearby”. Oh pantas saja, cuma ada satu masjid disekitar sini. Tak lama kemudian, aku melihat sebuah bangunan berwarna krem kekuningan dengan kubah dan menara berwarna putih. Tidak salah lagi, itu masjid yang kami tuju. Kesan pertama, lingkungan di sekitar masjid gersang, tandus dan berdebu. Cukup jauh berbeda dengan yang aku lihat di sepanjang jalan kota Siem Reap yang begitu bersih dan Rapi. Masjid An-Ni’mah. Nama masjid yang ditulis dalam bahasa arab gundul yang terpampang pada gerbang Masjid. Ditambahi pula oleh tulisan khmer yang aku tak tahu artinya. Aku turun dan meminta Mr. Kham untuk menunggu di sekitaran Masjid saja sampai Jum’atan selesai. Dia berteduh di teras rumah. Memang hari ini terik sekali matahari. Aku masuk, kemudian mengambil air wudhu dilanjutkan dengan sholat sunnah 2 rakaat.
Satu- persatu jamaah berdatangan. Shaf-shaf mulai terisi penuh. Kumandang adzan dibawakan merdu oleh muadzin. Khutbah jum’at kali ini disampaikan dalam bahasa Khmer, bahasa nasional Kamboja. Jujur, sepanjang khutbah aku menerka-nerka apa isi khotbah tersebut. Dari suaranya, sang khatib sangat bersemangat dan menggebu-gebu menyampaikan khotbah ini. Aku masih tak mengerti apa maksud dari khotbah jumat tadi. Selesai sholat aku memberanikan diri bertanya kepada salah seorang muslim di sana, sambil aku juga ingin mendengar cerita mengenai sejarah kampung muslim di Siem Reap ini.  Kemudian aku dikenalkan dengan salah seorang ulama disana, aku lupa namanya, tapi sebut saja Ustadz Yusuf. Kami duduk-duduk di dalam masjid, dekat mimbar. Aku mengenalkan diri sebagai turis dari Indonesia yang sedang melakukan perjalanan mengelilingi Asia Tenggara. Dia tahu Indonesia dari turis-turis yang datang ke Siem Reap ini.
Aku bertanya beberapa pertanyaan, tujuannya untuk mengetahui lebih dalam asal-usul komunitas muslim di Siem Reap Ini. Ustadz Yusuf mulai bercerita dengan bahasa Inggris yang cukup bisa dimengerti diselingi bahasa Melayu. Beliau mengatakan ada 4 masjid di provinsi Siem Reap. Salah satunya masjid An-Nikmah ini. Mereka menamakan diri mereka sebagai Muslim Cham. Ada sekitar 600,000 Muslim Cham yang tersebar di seluruh wilayah Kamboja. Salah satunya di kampung ini, kampung Steung Thmey namanya. Aku bertanya bagaimana asal mula agama islam masuk ke Kamboja. Beliau kembali bercerita, menjawab apa yang aku tanyakan. Dahulu, di daerah Vietnam Utara dan masuk sedikit wilayah China, terdapat sebuah kerajaan yang bernama Champa. Kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan hindu di Asia Tenggara di abad 17. Syiar Islam masuk dan diterima baik di Kerajaan Champa, kemudian mendarah daging ke masyarakat. Namun, saat terjadi Invasi dari kerajaan-kerajaan sekitarnya yang berasal dari China dan Burma, kerajaan hancur dan penduduknya tercerai berai ke daerah-daerah di Vietnam, Kamboja, Laos. Malaysia dan Wilayah Selatan Thailand. Aku seperti berwisata sejarah. Membayangkan bagaimana Islam seakan menjadi ancaman. Ustadz Yusuf menambahkan kalau, komunitas muslim Cham di Siem Reap tidak sebanyak di Ho Chi Minh. Rasa penasaranku masih belum terpuaskan. Aku bertanya, bagaimana komunitas muslim masih bisa bertahan sampai saat ini. Pemerintah mendukung. Ya, katanya pemerintah cukup mendukung dengan kegiatan muslim di Siem Reap. Keberadaan mereka menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan muslim yang berkunjung ke Angkor Wat. Pemerintah mempermudah pendirian restaurant-restaurant halal di sini. Walaupun dari segi pendidikan dan fasilitas, kami merasa ada diskriminasi. Namun, bertemu dengan saudara-saudara muslim dari seluruh penjuru dunia, membuat kami merasa senang. Satu pertanyaan terakhir dariku yang penasaran dengan isi khutbah tadi. Ustadz Yusuf paham kalau aku tidak mengerti. Intisari dari khutbah jumat yang disampaikan adalah pentingnya meningkatkan rasa syukur dengan apa-apa yang didapatkan. Tidak perlu mengeluh dengan keadaan muslim Cham di Siem Reap. Kami masih diberikan ketentraman untuk hidup. Tidak seperti saudara-saudara Muslim kita di Rohingya dan Palestina yang hampir setiap hari, bahkan setiap detik, kematian bisa datang menghampiri. Suara-suara tembakan, roket, bom tidak dirasakan di sini. Tidak lupa kami juga memanjatkan doa bagi mereka agar selalu diberikan ketabahan. Siang ini, kami menggalang bantuan dana bagi muslim disana. Aku sangat kagum dengan mereka, walaupun sebagai minoritas yang penuh keterbatasan, namun tak menurunkan semangat mereka untuk berbagi.
Tak terasa sudah jam 2 siang. Aku memutuskan untuk berpamitan karena ingin mengunjungi Angkor Wat yang tiketnya sudah kubeli. Dia menawarkan adiknya untuk menjadi supir tuk-tuk. Aku bilang kalau aku sudah menyewanya tadi pagi. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih karena telah memberikan banyak cerita sejarah yang tak pernah aku dapatkan. Aku memberikan koin rupiah untuk kenang-kenangan. Didepan masjid, Mr. Kham sudah menunggu dengan wajah kepanasan. Aku mengucapkan salam kepada Ustadz Yusuf dan berharap bisa bertemu lagi dilain hari, walaupun aku yakin beliau akan ingat denganku. Aku bersama Mr.Kham kembali menyusuri jalan berdebu yang disekitarnya aku melihat Ibu-Ibu sedang mengerjakan pekerjaan rumah tangganya, dan anak-anak yang sedang bermain. Senyum di wajah mereka, telah menghilangkan rasa lelah yang sedari tadi menyelimuti. Setelah ini, aku semakin bersemangat untuk menyelesaikan perjalanan ini. Terima Kasih Mr. Kham, karena telah membawaku ke sisi lain Kota Siem Reap.

***

Mobil Barang

          Bus yang aku tumpangi sesaat lagi sampai di perbatasan. Aku menanyakan ke penumpang sebelah untuk memastikan. Ya, ini sudah sampai di Rong Klua. Tujuanku menuju Siem Reap sudah semakin dekat. Saat itu masih pagi. Tempat itu seperti pasar tradisional. Aktivitas jual-beli selayaknya seperti di Indonesia. Sopir tuk-tuk juga berlalu lalang mengantarkan pembeli dari dan menuju pasar. Aku turun disitu dan berjalan-jalan untuk mencari sesuap makanan. Sulit sekali untuk sekedar membeli makanan, keterbatasan bahasa menjadi penghalang. Aku segera saja menuju Poipet, wilayah terluar Kamboja tepat bersebelahan dengan Rong Klua. Aku banyak mendapat cerita jika border antara Thailand dan Kamboja ini salah satu yang paling rawan penipuan, terutama bagi turis asing berkulit putih. Penipuan ini disebut scam oleh komunitas backpacker. Scam bisa berupa penaikan harga visa dari agen-agen tak resmi. Visa tetap berlaku, tapi tentu ada mark up harga.  Aku sendiri tidak memerlukan visa untuk memasuki wilayah Kamboja, jadi aku ambil jalur yang non-visa. Walaupun banyak agen-agen yang menawarkan, aku tinggal menunjukkan passportku saja dan mereka langsung diam. Hari itu saya jarang sekali melihat turis melalui rute ini, mungkin karena sudah banyak pesawat dari Bangkok ke Siem Reap. Aku berencana melanjutkan perjalanan dari Poipet ke Siem Reap dengan menggunakan Taksi. Untuk menghemat biaya, saya harus mencari 3-4 orang wisatawan lain yang memiliki tujuan yang sama. Namun, rencana ini harus aku pikir ulang karena tidak ada turis yang terlihat.
            Setelah passport di cap, aku langsung dikerubuti oleh para tukang ojek yang menawarkan jasa ke terminal bus Poipet. Aku tak langsung menyetujui sampai akhirnya ada salah seorang yang menawarkan untuk mencarikan taxi dengan harga seperti biasa, yakni 15 USD. Aku segera menyetujui. Tapi, sebelumnya aku minta diantarkan ke money changer, karena aku tak memegang USD sama sekali. Memang, di Kamboja ada 2 mata uang resmi, USD dan Riel. Keduanya digunakan, namun USD jadi pilihan utama. Di sini kesalahanku, aku menukarkan uang di Border paling kejam ini. Nilai tukarnya sangat rendah sekali. Sehingga aku rugi beberapa puluh dollar. Tapi karena sudah terlanjur, ditambah lagi aku hanya seorang diri, jadi aku terima saja walaupun ada perasaan gondok sekaligus menyesal. Aku  diminta menunggu di sebuah tempat tepat di belakang pasar. Aku mengira yang datang adalah taxi, namun sangkaku salah. Yang akan mengantarkanku hanya sebuah mobil warga lokal yang akan menuju Siem Reap. Itu pun mobil sedan yang sudah cukup tua. Ditambah lagi, mobil sudah terisi oleh 5 orang. Satu supir dan 4 orang anggota keluarga lainnya. Bukan cuma itu, di dalam mobil juga sudah menumpuk barang2 dagangan yang akan mereka jual di sana. Kepalang tanggung, aku langsung masuk saja, sambil menaruh tasku di bagasi. Aku duduk di kursi bagian belakang, dihimpit oleh 3 orang lain. Sempit sekali rasanya. Posisi kakiku juga tak nyaman, karena harus ada di atas barang dagangan. Jangankan ingin meluruskan kaki, menggerakkan badan saja susahnya setengah mati.
            Aku tak bisa membayangkan aku harus menikmati perjalanan dengan posisi seperti ini. Lama perjalanan yang harus kutempuh kurang lebih 6 jam. Dengan situasi seperti ini, aku tidak mau dirugikan. Aku tawar saja harganya menjadi 10 USD, atau saya cari mobil lain. Mungkin karena terdesak butuh uang, tukang ojek tadi menyetujui dan mengatakan ke sang supir. Sepanjang perjalanan, aku cuma bisa diam. Tak ada sepatah kata pun yang aku ucapkan. Mereka tak mengerti bahasa Inggris, dan aku tak mengerti bahasa mereka. Hanya senyuman yang terlempar dari dari wajah mereka. Aku menyebutnya senyum keheranan; karena mungkin dalam benak mereka, kok bisa anak muda seperti ku ini melakukan perjalanan seorang diri di negeri asing yang bahkan aku tak mengerti bahasanya. Tapi aku yakin, di balik senyuman itu, ada rasa ingin tahu dari mana aku berasal dan kenapa aku bisa sampai sini. Segera saja aku ambil kertas yang berisi itinerary perjalanku serta pulpen di saku depanku. Aku coba gambar peta Asia Tenggara, semirip mungkin. Aku juga gambar titik dimana negara mereka dan dimana Indonesia. Dengan bahasa isyarat, aku jelaskan sebisanya. Mereka menggangguk-angguk, walau aku yakin mereka tak sepenuhnya paham. Tak apa, paling tidak aku sudah mengenalkan dimana letak Indonesia.
            Aku coba memejamkan mata berharap waktu cepat berlalu. Tapi aku tak bisa. Keadaan dalam mobil yang panas ditambah oksigen yang tak proporsional dengan jumlah orang di dalam, berhasil membuatku berpeluh keringat. Mereka menawarkan kipas. Tentu aku terima. Dalam hal ini, mereka mengerti tanpa aku memberi isyarat.
         Tanda-tanda sampai di Siem Reap sudah semakin dekat, ditandai dengan makin banyaknya pemukiman di kanan kiri jalan. Terlihat pula candi-candi tempat peribadatan Agama budha yang menjadi agama mayoritas. Di depan aku lihat ada Gapura yang menyambut kedatangan kami. Jalanan menuju Siem Reap ini cukup sepi, hanya beberapa kendaraan pribadi yang melintas. Keadaannya bersih, walaupun udaranya panas. Aku diturunkan di pinggiran kota oleh sang supir, sekaligus memanggil seorang tukang ojek. Aku sedikit protes, kenapa aku diturunkan disini. Padahal sesuai perjanjian, aku meminta diturunkan di sekitar Angkor Wat. Percuma, mereka tak mengerti. Aku bayarkan saja 10 USD dan mengambil tas ranselku. Setelah mereka pergi, aku mengatakan kalau aku ingin pergi ke Angkor Wat kepada sang tukang ojek. Karena memang dia sering mengantar turis-turis kesana, syukurlah dia mengerti bahasa Inggris. Aku bertanya harga, katanya 15 USD untuk satu hari. Aku tawar 10 USD. Dia setuju-setuju saja. Aku meminta untuk diantar ke kaunter tiket dahulu sebelum ke restaurant. Di tengah jalan, dia bertemu teman-temannya yang juga memiliki profesi yang sama. Pemandu wisata. Lebih tepatnya Pengantar Wisatawan. Disana, aku diberitahu kalau pakai ojek itu 15 USD dan pakai tuk tuk 20 USD. Aku tetap memaksa 10 USD sesuai harga awal. Lagi lagi, aku cuma seorang diri di sini. Keadaan yang mengharuskanku menerima ini. Oke, deal 15 USD untuk satu hari dengan syarat mengantarkan kemanapun aku mau, bukan cuma ke Angkor Wat. Kami berjabat tangan, deal. 
***

Minggu, 22 Maret 2015

Selembar Kain Keikhlasan

Cerita sebelumnya buka link berikut : Chasing A Flight
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
        “Ladies and gentlemen, welcome to Don Muang International Airport. Local time is 9 pm and the temperature is about 25oC begitulah kira-kira suara dari cockpit yang ku dengar. Agak samar-samar karena tubuh ini baru setengah sadar. Tak terasa pesawat akan segera landing. Aku pun membenarkan posisi kursi yang sedari tadi aku sandarkan ke belakang.
            “Dug.. “ rupanya proses landing tidak begitu mulus. Dengan membawa satu ransel dan tas kecil, aku melangkah cepat menuju loket imigrasi agar bisa mengisi perut yang sedari tadi minta diisi. Keluar dari terminal, aku melihat sekeliling untuk menemukan bus A1 yang menuju ke Mo Chit Terminal atau Northeastern Terminal. Penampilan dari bus ini seperti Damri atau Kopaja di Jakarta. Berumur tua, agak kusam dan knalpot yang mengeluarkan asap cokelat.
            Aku naik dan bertanya kepada sang supir yang ternyata seorang wanita, untuk meyakinkan apa benar bus ini menuju ke Mo Chit Bus Terminal. Dengan aksen thailand yang khas, wanita itu menjawab ya, tapi akan memakan waktu karena jalanan bangkok yang macet. Aku duduk di dekat jendela agar memudahkan melihat pemandangan malam di kota yang terkenal dengan sebutan Venice dari timur ini. Tak jauh berbeda dengan Jakarta, ada banyak gedung tinggi, kelap kelip lampu jalanan, tak ketinggalan hilir mudik kendaraan dan padatnya arus lalu lintas. Pada situs backpacker yang sebelumnya aku buka, tarif bandara-terminal sekitar 20 bath. Ketika kondektur bus berkeliling untuk meminta ongkos kepada penumpang, aku menyerahkan uang sejumlah itu. Sang kondektur kemudian mengembalikan uangku. Dia bilang uangnya kurang. Tapi aku bersikeras bahwa tarifnya memang segitu. Aku tidak mau tarifnya di mark up hanya karena aku seorang turis. Aku bertanya ke penumpang disebelahku. Katanya memang tarifnya sudah naik. Aku merogoh sisanya dan memberikan ke kondektur. 30 menit sudah berlalu, satu persatu penumpang mulai turun,  tapi belum tanda-tanda bus ini akan sampai tujuan. Aku khawatir bahwa terminal sudah terlewat. Kekhawatiranku muncul ketika aku tidak sepenuhnya yakin sang supir mengerti ke mana arah tujuanku.
BTS Mo Chit? Here is BTS Mo Chit” kata kondektur kepadaku. Aku kaget, karena itu bukan tempat tujuanku. BTS berbeda dengan Terminal. BTS adalah nama stasiun untuk MRT di Bangkok. “No.. No.. I want to go to Mo Chit Bus Terminal” jawabku dengan melambatkan suaraku berharap dia mendengar jelas tujuan akhirku. “It’s the next stop” sambil mengacungkan telunjuknya ke arah kanan. Huft, lega rasanya karena aku tidak salah naik Bus.
Waktu menujukan pukul 10 ketika aku sampai di Terminal Bus. Aku segera mencari-cari keberadaan bus yang akan membawaku ke Aranyaprathet, border antara Thailand dan Kamboja. Aku bertanya kepada penumpang lokal, namun tidak ada yang mengerti apa yang aku katakan. Keadaan bertambah bingung ketika hampir semua petunjuk di terminal itu berbahasa Thailand. Jangankan mengetahui artinya, membacanya pun aku tidak sanggup. Aku menuju ke kantor keamanan di dekat gerbang, untungnya ada petugas yang sedikit mengerti bahasa Inggris. Aku diarahkan untuk menuju ke gedung terminal utama, karena semua loket perusahaan bus terletak di sana. 
Keadaan di dalam gedung tidak seperti yang ku bayangkan, walaupun agak sedikit berantakan tapi posisi dari kaunter tiket, minimarket, restaurant, dan para pedagang sangat teratur. Setelah bertanya ke sana kemari, naik dan turun, aku menemukan loket tersebut. Loket seperti wartel dengan bertuliskan Bangkok-Aranyaprathet itulah yang aku cari. Tapi loket terlihat tutup dari kejauhan, aku bertanya ke kaunter tiket lain yang berada disampingnya. Katanya baru akan dibuka jam 3 pagi, karena keberangkatan Bus jam 3.30 Pagi. Aku juga bertanya apa ada bus lain yang lebih awal, tapi jawabannya negatif, satu-satunya bus ke Aranyaprathet memang hanya itu. Memang ada alternatif lain menggunakan Bus Bangkok-Phnom Penh, tapi keberangkatannya jam 7 pagi dan tapi tarifnya mahal sekali, diluar budget perjalananku. Akupun dipaksa menyerah oleh keadaaan.
“kruyuk..kruyuk..” suara perutku yang kembali meronta ronta minta segera diisi. Aku menuju restaurant yang masih berada di dalam gedung yang sama. Nampaknya keberuntunganku belum tiba, menu makanan di restaurant semuanya menggunakan bahasa thailand, bahkan salah satu makanan cepat saji pun ikut-ikutan. Satu-satunya yang bisa membantuku hanya gambar. Ya, gambar makanannya. Kulihat sekeliling pun, tidak ada seorangpun turis. Karena tak mau ambil resiko untuk memakan makanan yang tidak halal, aku segera saja menuju supermarket untuk membeli cemilan. Aku berkeliling untuk mencari makanan dan minuman yang terdapat logo halal oleh lembaga islam di bangkok. Ada beberapa makanan yang di beri tanda halal. Aku membeli 3 roti, 1 botol susu dan 1 kaleng minuman isotonik.
Aku mencari tempat duduk yang dekat dengan sumber listrik untuk mencharge handphone yang sudah mati ketika di Malaysia. Tapi tampaknya tak ada tempat duduk yang dekat. Sumber listrik yang ada hanya dekat pintu masuk, sehingga sedikit menghalangi jalan. Tapi demi kemudahan berkomunikasi esok hari dengan teman di Kamboja, aku tak peduli dengan itu. Aku duduk di dekat pintu masuk dimana banyak orang berlalu-lalang. Aku charge baterai handphone dan kameraku. Aku juga mencari sinyal Wi-Fi yang gratis, sekedar untuk bertegur sapa dengan orang tua. Tak disangka, ada juga Provider lokal yang menyediakan Wi-Fi gratis tanpa harus membeli paket. Cukup melakukan registrasi dan aku pun bebas menikmati fasilitas ini. Aku juga memberitahukan teman yang di Bangkok, bahwa aku sedang di bangkok, dan memintanya untuk menjemputku. Dia menanggapnya serius. Aku katakan, aku ingin menjadi warga lokal dan berbaur dengan mereka. Aku juga ceritakan semua kejadian hari ini.
Tak lama berselang, ada petugas terminal yang memintaku untuk pindah, karena menghalangi jalan. Sebelum memintaku pindah, dia bertanya mau kemana. Wajar memang, dari penampilanku, aku terlihat kusut sekaligus menenteng ransel yang cukup besar. Aku jawab saja kalau aku sedang menunggu bus ke Border jam 3 pagi sambil memperlihatkan muka harapku. Dia rupanya tak iba dan tetap memintaku pindah. Aku pun pindah ke bangku dan meninggalkan smartphone ku di tempatnya. Aku cukup mengawasinya dari bangku sini. Aku rasa terminal ini cukup aman.
Setelah terisi cukup penuh, baik perut maupun smartphone ku, akupun ingin merebahkan badanku yang lelah ini. Aku mencari bangku terminal yang kosong. Aku gunakan ransel sebagai bantal dan hanya berselimutkan jaket cokelat yang sudah bau keringat. Malam itu cukup dingin, karena pintu terminal yang selalu terbuka. Seorang ibu yang sedang tidur tepat dibangku yang berhadap-hadapan denganku, menyodorkan sehelai kain untuk melindungi tubuhku dari udara dingin itu. Mungkin ibu itu merasa kasihan terhadapku. Aku menerimanya dengan senang hati dan mengucapkan terima kasih dengan bahasa Thailand tentunya.
Jam 3.15 alarmku pun berbunyi, aku segera bangun untuk antri membeli tiket. Ibu yang memberikan kain semalam sudah tak terlihat di depanku. Aku melihat sekeliling, namun tetap tak menemukannya. Aku segera menuju loket dan menyerahkan uang bath sejumlah yang tertera di kaca loket. Aku diberikan tiket. Aku juga diminta hati-hati ketika sampai di border. Aku mengiyakan. Aku menuju pintu keluar untuk masuk ke dalam bus yang sedari tadi sudah memanaskan mesin mobilnya. Aku lipat kain pemberian sang ibu dan memasukannya dalam tas. Kain ini nantinya akan menemaniku selama perjalanan. Dari sehelai kain ini pula, aku belajar tentang keikhlasan. Keikhlasan untuk menolong sesama yang tak menghiraukan perbedaan budaya dan adat-istiadat. Ikhlas memang tak terucap darinya, tapi dengan seuntai senyuman, dia mengatakan apa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. 
***

Sabtu, 21 Maret 2015

Very Beginning of New Life Journey

Ditengah-tengah penatnya pengerjaan Tugas Akhir yang hampir menguras waktu, tenaga, pikiran sampai isi dompet, saya ingin berbagi cerita mengenai beasiswa yang baru saja saya terima mulai dari proses sampai tips dan triknya. Semoga bermanfaat!

Sebelumnya, saya ingin mengumumkan bahwa Alhamdulillah saya diterima di Tohoku University melalui program International Environmental Leadership Program (IELP). Program ini diselenggarakan oleh Graduate School of Environmental Studies. Program ini sebenarnya salah satu dari banyak Priority Graduate Program (PGP) yang dibiayai oleh MEXT atau yang lebih dikenal dengan Monbukagakusho. Program-program yang lain bisa dilihat di web ini. Insyaallah, saya akan menjalani kuliah S2-S3 selama lima tahun di kampus yang terletak di kota Sendai tersebut.

Saya akan mulai cerita dari awal. Bulan November akhir tahun lalu, salah satu dosen di Jurusan mengumumkan bahwa sedang ada pendaftaran IELP untuk tahun 2015 dan ditempel di mading depan Tata Usaha Teknik Material dan bagi yang berminat bisa menghubungi beliau. Awalnya saya kurang tertarik, karena alasan pertama adalah Tohoku University/Tohoku Daigaku atau biasa disingkat Tohokudai bukan kampus impian saya, walaupun Jepang masuk dalam daftar ‘must visit countries’. Alasan kedua karena melihat dari judul programnya, sangat jauh dari minat dan topik tugas akhir saya. Jadilah saya abaikan pengumuman itu. Selain pengumuman yang ditempel, kakak kelas saya (Teknik Material 2010) yang diterima diprogram IELP 2014 memposting pengumuman lebih detail. Setelah saya lihat-lihat, ternyata kita boleh mengambil jurusan yang berafiliasi dengan Graduate School of Environmental Studies (GSES). Dari situ mulai kepo mengenai program ini. Mulai dari tanya-tanya sampai mencari semua Informasi tentang Tohokudai.

Setelah membaca dan memahami persyaratannya, saya memberanikan diri untuk menghadap dosen yang memberi pengumuman untuk mengatakan bahwa saya minat ikut program tersebut. Setelah ngobrol, saya kira akan diberikan kontak professor disana, tapi ternyata harus mencari Professor  sendiri. Walaupun sudah cukup pengalaman dalam mengontak dan berdiskusi dengan professor di NTU lewat email, tapi ini berbeda. Saya akan mengontak orang yang tak saya kenal, dan dia tak kenal saya. Memang, dalam salah satu proses Pre-application IELP ini, semua pendaftar harus sudah diterima oleh seorang Professor di Tohokudai, kalau tidak, maka aplikasinya tidak akan diterima.

Next, saya jelajahi semua lab yang ada afiliasi dengan GSES, dan ada beberapa lab yang sangat dekat dengan topik tugas akhir salah satunya Environmental Inorganic Material Chemistry Laboratory yang dikomandani oleh Prof. Tsugio Sato dan Assoc. Prof. Shu Yin. Melihat research topic dan publikasinya, sepertinya sesuai minat saya di sintesis nanomaterial untuk berbagai aplikasi khususnya lingkungan.

Pagi hari, sekitar jam 5 pagi, saya mengirim email kepada Prof. Sato, dan berharap bisa segera dibalas, karena deadline aplikasi tinggal 2 minggu lagi. Tapi, sampai esok harinya tak ada satupun email yang masuk. Padahal, saya sudah memilah-milah kalimat agar menarik untuk dibaca. Usaha tak sampai disini, saya mencoba mengemail kepada Prof. Yin. Tapi sama saja tak ada balasan. Saya mulai mencari lab lain sekaligus berkonsultasi dengan kakak kelas disana. Dia menyarankan agar saya menemui Prof. Kimura di kantor Perwakilan Tohoku University di IRO ITB. Saya mengemail Prof. Kimura untuk membuat janji, dan diminta untuk bertemu setelah makan siang dikantornya.

Kantor perwakilan Tohokudai terletak di lantai 2, gedung IRO ITB. Setelah mencari-cari, akhirnya ketemu juga pintu masuknya. Saya diterima oleh sekretarisnya dan meminta untuk menunggu sebentar. Kimura sensei keluar dari ruangannya. Saya berdiri dan langsung menyalami beliau. Saya bercerita bahwa saya berminat untuk mendaftar program IELP dan sudah menghubungi Professor disana tapi belum mendapatkan balasan. Setelah itu, beliau ‘menginterogasi’ saya dengan beberapa pertanyaan mulai dari IP, TOEFL, CV, Topik TA, dll. Mungkin untuk mengecek kesiapan. Setelah itu, beliau langsung mengambil telepon dan dari pembicaraannya, beliau sedang mengontak GSES langsung supaya memberitahukan Prof. Sato dan Prof. Yin bahwa ada mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di lab mereka. Setelah mengobrol dan meminta advice dari Kimura Sensei, saya izin pamit.

Tak lama berselang, sekitar sore harinya, ada satu email masuk. Tau dari siapa? Dari Prof. Yin! Saya kaget, dan cepat-cepat membaca. Intinya Yin sensei menguncapkan terima kasih sudah interest di topik penelitiannya dan menerima saya di labnya asal saya diterima sebagai penerima beasiswa Monbukagakusho. Senang sekali hari itu. Saya mengulang-ulang membaca email dari Yin sensei, untuk memastikan bahwa saya tidak salah lihat. Haha.

Sejak saat itu, saya berdiskusi mengenai tema besar penelitian yang akan saya geluti selama 5 tahun ke depan. Saya meminta topik apapun asal yang behubungan dengan nanomaterial. Akhirnya setelah satu minggu berdiskusi, disetujuilah topik mengenai “Water Controlled Release Solvothermal Process (WCRSP) of Morphological Controllable Oxide Based Nanomaterial”. Keren kan? Biasa aja sih sebenernya. Hehe. Intinya cuma tentang mengembangkan teknik baru untuk sintesis nanomaterial.
Saya juga tidak lupa untuk melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan untuk pendaftaran. Tidak terlalu sulit jika kita mempersiapkannya dari jauh-jauh hari. Application Form, CV/Resume, Transkrip IP, 2 Recommendation Letter dan Sertifikat Bahasa. Saya masih ingat saat meminta surat rekomendasi ke dosen pembimbing tugas akhir, saya ditolak karena saya belum lulus. Walaupun saya sudah meminta dengan muka yang penuh belas kasih, tetap saja beliau tidak mau. Sedih kan. Tapi, saya selalu memegang prinsip untuk selalu tegas terhadap tujuan, dan fleksibel dengan cara mencapainya. Sehingga saya memutuskan untuk meminta rekomendasi dari dosen yang memberikan pengumuman tentang program ini. Alhamdulillah beliau menyetujui. Selain itu, syarat yang belum saya penuhi yaitu Sertifikat Bahasa. Waktu itu saya cuma ada TOEFL ITP. Walaupun skornya bagus, tapi tidak tercantum dalam persyaratan. Hanya ada TOEFL-iBT, IELTS atau TOEIC. Setelah mengemail panitia, saya diperbolehkan menggunakan TOEFL ITP terlebih dahulu dengan syarat mengirimkan salah satu language certificate diatas. Dengan penuh pertimbangan, akhirnya saya memilih mengambil TOEIC karena selain harganya paling murah, dan waktu tesnya juga setiap hari rabu. Saya daftar di ITC yang terletak di Jakarta dan sertifikat bisa diambil H+1 yang bisa saya langsung saya kirimkan. Ada satu lagi yang paling berkesan, yaitu saat mengirim berkas. Persyaratan semua sudah selesai, tinggal menunggu surat rekomendasi dari kaprodi yang baru pulang dari Hiroshima tepat menjelang batas akhir pengiriman. Saya segera menuju kantor pos di Jalan Asia Afrika. Ditengah perjalanan, hujan tiba-tiba turun deras sekali. Sehingga saat turun dari Angkot, saya lindungi tas dengan jaket supaya tak terkena air. Saya panggil tukang becak untuk mengantarku ke depan kantor pos. Becak satu-satunya alternatif agar berkas-berkas saya tak basah oleh air hujan. Walaupun akhirnya celana dan jaket basah kuyup, namun tak apa, karena isi tas lebih penting. Sesampainya depan kantor pos, ternyata sudah tutup. Saya kecewa. Padahal masih ada waktu 5 menit lagi. Saya mengirim dokumen esok harinya, pagi-pagi sekali, berharap dokumen sampai tepat waktu di Jepang. Saya menggunakan EMS yang memiliki fasilitas tracking number, jadi kita bisa memantau sudah sampai mana dokumen kita. Alhamudillah, dokumen saya sampai di Tohokudai tepat waktu.

Singkat cerita, saya dihubungi oleh Prof. Yin untuk jadwal wawancara. Awalnya, saya akan diwawancarai tanggal 8 Januari 2015 melalui Skype atau WeChat. Saya sudah persiapan dari jauh-jauh hari, mulai dari menginstall ulang Skype untuk windows 8, menginstall WeChat sampai mengecek kestabilan koneksi internet di ITB. Selain itu saya juga sudah mempersiapkan segala kemungkinan pertanyaan yang akan muncul dan serta bagaimana saya harus menjawabnya. Tapi ternyata jadwal wawancara saya diundur jadi tanggal 19 Januari, padahal saya sudah cepat-cepat ke Bandung hanya untuk wawancara. Tapi tak apa, saya yakin ada hikmah dibalik ini.

Tibalah hari wawancara, saya harus jam 7 pagi ke ruang multimedia FTMD agar mendapat koneksi internet yang cepat. Saya dibantu Teknisi IT disana. Jam 8 saya juga melakukan testing dengan Prof. Yin untuk memastikan semua berjalan dengan lancar. Tak lupa juga meminta doa ke orang tua supaya dilancarkan dan berikan hasil yang terbaik. Waktu itu ada 3 orang pewawancara, saya lupa namanya. Tapi salah satunya adalah Prof. Yin tentu saja. Satu persatu secara bergiliran membombardir saya dengan pertanyaan. Alhamdulillah saya bisa jawab dengan lancar, walaupun diawal-awal ada gangguan dengan koneksi internet sehingga harus menunggu selama 15 menit agar kembali stabil. Sekitar 1 jam, wawancara selesai. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas waktu dan kesempatannya. Saya juga mengatakan ini pertama kalinya saya diwawancarai oleh Professor-professor terbaik dibidangnya. Mereka juga menyampaikan beberapa hal salah satunya adalah final announcement yang akan di release tanggal 6 Februari, artinya 3 minggu setelah wawancara.

Sambil menunggu, saya juga sempat mencari-cari beasiswa lain salah satunya Korean Government Scholarship Program (KGSP) ke Korea University untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Sama seperti IELP yang mensyaratkan agar menghubungi Professor terlebih dahulu, maka saya mengemail beberapa professor disana yang akhirnya tak ada satupun email yang dibalas. Ada satu, Prof. Taeyeon, namun itupun saya ditolak dengan alasan labnya sudah penuh. Saya kecewa, karena deadline juga sudah mepet.

Tanggal 4 Februari 2015, saya mendapat pesan dari Kang Zaka bahwa ada 4 orang dari Indonesia yang diterima. Salah satunya Marsetio, Teknik Material 2010 yang memang daftar di lab yang sama. Saat saya tanya siapa 3 orang lainnya, kang Zaka tidak tahu. Tapi dia yakin bahwa saya diterima saat saya tak seyakin itu. Haha. Selama 2 hari saya benar-benar tak enak makan dan tidur (sumpah ini bener) memikirkan pengumuman dan mempersiapkan kemungkinan terburuk, yaitu gagal.

Tanggal 6 Februari, saat itu saya sedang ada kelas. Saya terus-terusan membuka email berharap pengumuman cepat keluar. Ada satu email dari IELP Admission Office bahwa pengumuman telah keluar, dan bisa dilihat di website IELP dengan memasukan password yang dikasih oleh panitia. Saya tidak sabar dan langsung membuka pengumuman itu. Yang pertama saya cari adalah nomor registrasi saya, yaitu GM04204. Dan aku serasa tak percaya, nomor registrasi saya tercantum didaftar peserta yang lolos sebagai kandidat penerima beasiswa Monbukagakusho. Hanya 8 orang yang diterima yang terdiri dari 6 orang master (yang akhirnya saya tau bahwa 4 orangnya dari Indonesia) dan 2 orang doktor. Saat itu perasaan lega sekaligus bahagia ditengah-tengah dosen yang sedang menjelaskan perkuliahan. Saya langsung memberitahukan orang tua melalui pesan singkat dan mengucapkan terima kasih atas doa mereka.

Untuk melengkapi cerita ini, saya ingin membagi tips dan triknya. Bagi kalian yang ingin melanjutkan S2 di Jepang atau Korea, kunci agar bisa lolos adalah diterima oleh salah satu Professor disana. Walaupun persyaratan IPK, TOEFL dan Rekomendasi itu penting,namun masih kalah penting sama syarat yang satu itu. Karena di negara-negara itu, kita menjalani perkuliahan dengan konsep research based, artinya kita setiap hari kerjaannya ngelab. Boleh tidak masuk lab jika ada kuliah saja. Oleh karena itu, coba kirimkan juga paper atau karya tulis yang pernah kalian buat apalagi yang berhubungan dengan topik riset disana nanti. Itu akan memperkuat aplikasi kita. Kendala yang biasanya dihadapi adalah kelengkapan dokumen, ada yang IPnya dibawah syaratlah, ada juga yang bahasa inggrisnya masih jeleklah, belum ada pengalaman ini itulah. Makanya persiapkan dari jauh-jauh hari! Kuliah yang rajin, ikut organisasi buat nambah pengalaman, bikin penelitian sederhana, belajar bahasa inggris, ikut tesnya. Persiapan itu butuh waktu, maka selain investasi uang, waktu adalah bentuk investasi kalau mau dapat beasisawa. Terus saat wawancara, jawab sedetail-detailnya dan sejujur-jujurnya. Sekali lagi, persiapkan dari jauh-jauh hari. Bisa mulai latihan dengan teman agar lidah kita tak kaku saat harus berbicara dengan bahasa Inggris. Baca-baca lagi CVmu, karena pertanyaan bisa muncul dari CV. Saat wawancara, saya disuruh cerita ketika saya pergi ke Jerman dan Singapura. Terakhir dan yang paling penting, jangan lupa minta doa dan keridhoan orang tua agar prosesnya dilancarkan. Ingat, “Ridhaallahi fi ridhalwalidaini”, ridho Allah terletak pada ridho orang tua. Semoga bermanfaat dan menginspirasi!

Bandung, 21 Maret 2014

(c) Angga Hermawan

Minggu, 15 Maret 2015

Chasing A Flight

Singapura, 9 Mei 2014
          Sudah 2 bulan ini aku membuat perencaan untuk melakukan perjalanan solo backpacker ke beberapa negara ASEAN, yaitu Kamboja, Vietnam, Laos dan Thailand. Berbekal browsing, tanya-tanya teman, dan sedikit imajinasi maka jadilah sebuah itinerary. Detail sekali menurutku. Karena, selain budget dan tempat-tempat yang wajib dikunjungi, aku juga menuliskan nama Bus, tempat berangkatnya sampai Merek busnya pun aku tulis. Aku sendiri memiliki tema untuk perjalananku kali ini, yaitu “Lost in ASEAN : One day one city”. Ya karena aku akan pergi ke negara-negara yang aku tak terlalu kenal bahasa dan budayanya.
Hari keberangkatanpun tiba, aku berangkat dari Singapura ke Kuala Lumpur melalui jalan darat. Kenapa harus dari Kuala Lumpur? Karena aku dapat tiket (sangat) murah ke Bangkok lewat Kuala Lumpur dari salah satu low cost airline. Pagi-pagi sekali aku berangkat menuju Imigrasi Singapura lalu dilanjutkan ke Johor Bahru. Dari sana, aku memilih naik bus untuk ke Kuala Lumpur. Ya begitulah rencanaku. Namun, masalah demi masalah bergiliran datang. Saat menaiki MRT, aku sempat ketiduran sehingga harus turun dan naik MRT lagi ke arah sebaliknya untuk menuju Woodlands station. Ini pertama kalinya aku ke Johor Bahru via Woodlands, yang biasanya kucapai via Kranji. Tapi karena ini hari terakhirku di Singapura, jadi ku coba jalan lain, ditambah lagi itu akan memangkas waktu perjalanan, pikirku. Tiba di Woodlands station, aku langsung tanya sana sini menanyakan platform bus nomor 950 yang akan membawaku ke Johor Bahru. Dari kejauhan aku lihat Bus nomor 950 itu. Aku langsung berlari agar tidak ditinggal. “Sorry, sorry, my bus is going to departure” kataku sambil berjalan cepat disela-sela kerumunan banyak orang. Sesaat sebelum sampai, kondektur bus mengisyaratkan agar bus cepat berangkat. “Wait.. wait” pintaku terengah-engah. Malang nasibku, bus tidak menghiraukan permintaanku. Ya itulah Singapura. Berangkat jam segini ya harus jam segini. Kamu telat, kami tinggal. Jadilah aku harus menunggu sampai Bus berikutnya datang.
Waktu terus berputar, sudah hampir 20 menit berdiri di platform ini, yang ku tunggu tak kunjung datang. Padahal bus dengan nomor lain datang dan pergi. Aku coba coba tanya ke petugas, katanya bus datang tiap satu jam sekali. Sempat berpikir untuk ke Kranji MRT dan menaiki bus nomor 170 yang frekuensi kedatangannya lebih cepat. Namun ketidakpastian jadwal kedatangan bus membuatku ragu juga. Bagaimana kalau saat aku pergi ke Kranji, bus nomor 950 itu datang? Aku lihat jam tanganku, masih ada sekitar 8 jam sebelum jadwal flight ku yang akan lepas landas pukul 18.45 waktu Malaysia. Kurasa masih cukup, jadi aku putuskan untuk menunggu. 20 menit telah berlalu, tibalah si Bus 950. Bergegas aku masuk ke Bus beserta penumpang lain dengan tujuan yang sama, Johor Bahru.
Singkat cerita, setelah melewati Imigrasi Woodlands Checkpoint dan Johor Bahru Checkpoint yang memakan waktu sekitar satu jam, aku sampai di Terminal Larkin, Johor Bahru. Seperti biasa, terminal ini sudah cukup ramai. Hiruk pikuk penumpang, calo-calo yang berseliweran serta bus dengan tujuan berbagai kota di Malaysia nampak sudah menjadi rutinitas di terminal ini. Aku langsung bergegas mencari kaunter Bus tujuan KL dengan jam keberangkatan secepat mungkin. Aku tak mau lagi menunggu seperti di Woodlands tadi. “KL, KL, berangkat sekarang” teriakan dari calo yang mulai menawarkan tiket tujuan KL. Aku tidak serta merta langsung tertarik, karena harganya sudah di mark up sekian ringgit dan cukup mahal dari harga normal. Aku juga harus tetap memegang teguh bugdet plan yang aku buat selama 2 bulan ini, agar tidak overbudget. Setelah berputar-putar dan tidak mendapatkan jam yang aku mau, aku menemukan kaunter dengan jadwal keberangkatan yang pas menurutku. Jadilah aku membelinya walaupun sedikit lebih mahal dari harga normal. Tidak apa, ini sedang keadaan darurat. Aku diantarkan ke platform bus oleh seorang wanita yang tidak lain adalah penjaga kaunter. Aku diminta menunggu. Bus akan datang sekitar pukul 12.15. Masih ada 6 jam lagi sebelum pesawatku berangkat.
Ternyata oh ternyata, bus ku terlambat 15 menit. Walau begitu, bus tidak langsung berangkat. Bus harus menunggu penumpang lain dari berbagai calo, ditambah lagi supir bus juga keluar untuk makan siang. Memang calo disini sudah terkoordinasi dengan rapi. Bahkan mereka menggunakan Handy Talkie untuk mengecek bus mana saja yang masih kosong. Tentu dengan harga yang lebih mahal. Makin gregetan. Ingin sekali aku bilang ke kondektur bus agar segera berangkat, tapi di negara orang aku tak bisa melakukan itu. Bisa bisa nanti hanya namaku saja yang pulang ke Indonesia. Jam 1, akhirnya bus pun berangkat. Aku mencoba menenangkan pikiranku, sambil memikirkan berbagai alternatif agar aku sampai di Low Cost Carier Terminal (LCCT) tepat waktu. Tak sadar aku sudah tertidur.
Bus yang aku naiki ternyata berhenti bukan di Bandar Tasik Selatan (BTS), tapi di Terminal Puduraya, Kuala Lumpur. Padahal disitu tidak dilewati oleh KLIA Transit yang akan membawaku ke lapangan terbang LCCT. Aku keluar dari terminal dan bertanya-tanya stasiun MRT atau KTM terdekat untuk menuju BTS. Katanya yang paling dekat itu ya di KL Sentral. Dari sini Aku harus naik Taksi atau Bus. Karena waktu yang semakin sempit, aku memilih taksi. Aku sedikit berdebat dengan sang supir tentang bagaimana cara ke LCCT. Dia mengatakan bahwa tidak ada kereta yang langsung ke LCCT sehingga harus pakai taksi atau bus dari BTS. Tapi aku yakin bahwa di KL Sentral ada KLIA Transit yang menuju ke LCCT. Aku pun meminta untuk diantarkan ke KL Sentral saja, walau sang supir masih bersikeras dengan pendapatnya.
            Setibanya di KL Sentral, aku langsung menuju ke kaunter KLIA Ekspress. Aku berkata bahwa aku ingin menuju ke LCCT. Sang penjaga kaunter mengarahkan Aku untuk menuju KLIA Transit yang terletak tidak jauh dari situ. Tanpa pikir panjang, aku menuju ke sana dan membeli tiketnya. Harganya 12,5 ringgit. Untuk rutenya, memang tidak ada kereta yang sampai ke LCCT. Tapi nanti transit dulu di stasiun salak tinggi kemudian naik bus ke LCCT. “How long does it take to LCCT?” tanyaku. “It’s about 45 minutes, and the next train will departure in 12 minutes” jawab salah satu penjaga kaunter sambil menyerahkan tiketku. Masih ada sekitar 3 jam lagi. Aku sedikit tenang.
             Sekitar 25 menit, keretaku sampai di stasiun Salak Tinggi. Dan bus sudah menunggu. Aku melihat jam tanganku lagi. Ah masih ada waktu satu setengah jam. Aku memutuskan untuk sholat dahulu, karena sudah memasuki waktu ashar, sedangkan sholat dzuhurpun belum aku tunaikan. Jadilah aku menunaikan sholat jama’ disana. Setelah selesai, aku meneguk segelas air mineral yang tersedia di mushola kecil tersebut. Rasanya haus harus berkejar-kejaran dengan waktu.
            Akupun keluar dari gate dan menuju bus yang sudah terparkir didepan stasiun. Tapi aneh, keadaan dalam bus masih sepi. Hanya aku sendiri dan sang supir. “Pak, jam berape bus ini berangkat?” tanyaku dengan logat sok melayu. “Tunggu kereta berikutnye datang, sekitar 30 menitan lagi la” jawabnya. Berarti sekitar jam 17.25 bus itu akan berangkat. Aku semakin khawatir. Tapi aku sekali lagi menenangkan diri mengingat perjalanan hanya 25 menit dan waktu check-in bisa 45 menit sebelum berangkat. Kereta berikutnya tiba. Para penumpang yang akan menuju LCCT pun naik bus yang sama. Kebanyakan adalah warga asing.
            Pukul 17.50 aku sampai di LCCT. Tidak sesuai dengan dugaanku, disana ramai sekali. Lalu, Aku bergerak cepat menuju kaunter check-in. Sialnya, aku harus melalui X-Ray Scanning dulu. Saat itu antriannya sangat panjang. Pasti tidak akan sempat untuk check-in. Saat mengantri, aku melihat dipapan pengumuman digital bahwa waktu check-in penerbangan ke Don Muang Airport, Bangkok, sudah ditutup. Aku merasa was-was dan sedikit putus asa. Tapi aku tak hilang akal. Aku berlari menuju antrian paling depan dan berkata “Could i go ahead please? My flight is going to departure, i don’t want to be late” aku memohon dengan napas tersengal sengal. Mungkin karena mereka kasihan melihatku, akhirnya aku diizinkan untuk masuk duluan. Setelah itu, aku menuju kaunter dan menanyakan apakah aku masih bisa check-in atau tidak sambil menyerahkan passportku. Kemudian dia sejenak menelepon untuk melakukan konfirmasi. Tidak lama kemudian dia memberikan tiket penerbanganku. Aku terima tiket itu mengucapkan terima kasih. Sang kaunter membalas dengan senyum manisnya. Setelah melewati beberapa proses dibandara seperti cap imigrasi, pemeriksaan tas dan barang bawaan yang tak kalah menengangkan, sampai sampai namaku sudah dipanggil-panggil untuk segera menaiki pesawat. 10 menit sebelum berangkat, aku tiba didepan pintu besi terbang itu. “Bangkok, I’m coming. Terima kasih ya Allah” aku berkata dalam hati. Aku duduk di dekat jendela. Perjalananku hari itu aku akhiri dengan melihat tenggelamnya matahari diantara awan-awan. Lembayung senja menambah cantik dan syahdunya suasana. “Maha Besar Allah yang telah menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya” decakku kagum. Ya Allah, tanpa pertolongan-Mu, aku tak bisa melanjutkan perjalananku, tak bisa menjelajahi bumi-Mu dan mungkin tak bisa menuliskan cerita cerita hikmah dibalik semua rencana-Mu. Lalu, aku pun terlelap.

***
Next Story will be uploaded soon here

Sabtu, 07 Februari 2015

My Roommate (part.2)

Sepulang dari kuliah, aku bergegas menuju kamar karena sudah tak sabar melihat reaksinya ketika aku buatkan sarapan pagi. Ketika aku masuk kamar, ku lihat dia tak berada di kamar. Mungkin teman kamarku ini sedang kuliah pikirku. Aku lihat, semangkuk sarapan pagi yang ku sajikan, di lahap habis olehnya. Aku senang, dia suka masakanku. Walaupun hanya bermodal bumbu instan.

Malam harinya, ketika kami berdua sedang duduk menghadap laptop masing-masing, aku memberanikan diri untuk bertanya.

“How was your breakfast, Briant?”

“Thank you so much Angga, it was one of my best breakfast ever. I just notice that halal food is delicious”


Aku puas mendengarnya. Kesempatan ini aku gunakan untuk berbagi cerita tentang seluk beluk makanan halal. Bahkan aku sebutkan hasil riset bahwa makanan halal baik untuk kesehatan. Satu lagi ilmu yang aku bisa tularkan kepadanya.

Hari hari di NTU, kami lewati dengan kesibukan masing-masing. Aku sibuk dengan kegiatan TF LEaRN ku, dan dia dengan kesibukannya. Namun kami tetap mengobrol banyak hal dikamar.

Namun, aku lihat akhir-akhir ini sikapnya berubah menurutku. Yang awalnya aku kenal dia merupakan mahasiwa yang baik, tapi seketika ada yang berbeda darinya. Mulai dari dia membawa beberapa botol bir ke kamarnya sampai membawa teman wanitanya ke dalam kamar, malam-malam pula. Tentu aku merasa sedikit risih dengan keadaan ini. Jelas saja, wanita masuk ke dalam kamar, malam hari dengan pintu tertutup. Aku mengira wanita itu adalah pacarnya, tapi belakangan aku tahu bahwa dia sesama anak exchange dari kanada. Aku sebenarnya tak terlalu khawatir sampai suatu saat dia membawa 3 teman lainnya masuk ke kamar. 2 perempuan dan 1 laki-laki. Mereka berempat mengobrol dan sesekali bercanda. Tentu aku agak terganggu dengan suara mereka karena aku sendiri sedang belajar materi ujian yang aku cicil. Parahnya lagi, dia membuka bir yang dia simpan di atas lemarinya dan meminumnya bersama mereka. Aku tak peduli dengan kelakuan mereka, tapi aku sungguh kesal dengan bau bir yang seketika menyebar ke seluruh penjuru kamar. Aku sesungguhnya tak suka saja baunya. Sedikit membuatku pusing. Bayangkan saja, suara bercandaan mereka dan bau bir yang menyengat. Bagaimana tidak membuatku kesal. Aku yang memakai earphone pura-pura tak menghiraukan mereka walau dalam hati sangat menggerutu. Mereka mengajak ngobrol denganku dan teman perempuannya mencoba menawarkan aku untuk minum juga, tentu aku menolak. Saat ditanya mengapa, aku jawab bahwa aku muslim dan tak boleh untuk minum bir. Brian paham dan menjelaskan kepada mereka. Untungnya aku sudah jelaskan sebelumnya pada teman sekamarku ini, sehingga aku tak perlu repot-repot lagi menjelaskan. Karena sudah tak tahan lagi, aku tutup laptopku dan menuju tempat tidur. Aku berbaring sambil kututupi wajahku dengan bantal, agar tak terlalu mencium baunya. Aku pun tertidur walaupun tak nyenyak.

Keesokan harinya saat aku bangun untuk sholat subuh, aku sangat kaget ketika melihat salah satu teman perempuannya tengah tertidur bersama temanku itu. Ya, tertidur di atas kasur yang sama. Bagi mereka ini hal yang wajar, tapi bagiku tidak. Ingin aku mengatakannya. Tapi aku takut merusak suasana kamar. Aku pernah mengajak teman dari Indonesia menginap di kamarku. Aku yakin ia terganggu. Namun sama halnya denganku, segan untuk berbicara jujur.

Lagi, 3 malam berikutnya dia membawa teman-temannya ke kamar. Tapi kali ini bukan untuk minum minum. Aku lihat barang-barangnya mulai dikemasi satu persatu. Seprai, baju-baju dan semua peralatannya. Aku penasaran, padahal ini masih awal bulan April dan masih ada 1 bulan lagi sebelum kuliah berakhir. Tiba-tiba ia menghampiriku, dan mengatakan bahwa dia akan pulang ke negaranya esok hari. Aku sontak kaget, mendadak sekali. Dia bercerita bahwa Ibunya sedang sakit dan memintanya untuk segera pulang. Aku masih tak percaya.

Aku ikut membantu membereskan barang-barangnya. Dia banyak menawarkan banyak barang yang sekiranya tak akan dibawa pulang. Aku terima dengan senang hati. Aku juga tak lupa memberikan kenang-kenangan berupa baju batik yang sudah aku siapkan sebelumnya.

Malam itu aku tak bisa tidur. Aku masih berharap ini mimpi, dan ingin cepat cepat bangun. Tapi ini memang nyata. Aku putuskan saja tidak tidur malam itu, aku rebahkan badanku di atas kasur sambil menyembunyikan mukaku di bawah selimut. Aku cuma ingin menghabiskan malam ini dengan memutar ulang memoriku bersamanya. Aku harap dia menganggapku benar benar tidur.

Tepat pukul 5 pagi, taksi pun datang menjemput. Aku masih pura-pura tidur. Dia sudah bersiap siap di depan pintu kamar. Dia berkata “see you next time my beloved room!”. “klap” pintu kamarpun tertutup. Aku bangun dan mengejarnya. Aku pikir ini kesempatan terakhirku untuk melihatnya sebelum dia terbang ke negara asalnya. Di depan pintu hall, aku memanggil namanya dan aku segera menghampiri untuk mengucapkan salam perpisahan. Aku memeluknya erat, tak terasa mataku pun berkaca-kaca.

Pagi ini sungguh penuh haru. Aku merasa sedih dengan kepulangannya. Aku kesal kenapa dia tak mengatakannya lebih awal? Kenapa? Sehingga aku tak kan sesedih ini. Aku akan lebih siap. Tapi aku mengerti, orang tuanya lebih membutuhkan dirinya daripada menghabiskan waktunya disini. Aku hanya bisa mendoakan Ibumu supaya lekas sembuh.

Aku melambaikan tangan tanda salam perpisahan. Beberapa saat kemudian supir taksi menyalakan mesin mobilnya. Semuanya sudah siap. Dia masuk, tanpa melihat ke arahku. Taksi ini pun berjalan kemudian menghilang di persimpangan jalan. Aku kembali ke kamar tapi aku merasa ada yang berbeda, sepi sekali. Aku tak melihat lagi saat kau bemain game, atau ketika kau masih tidur saat aku sholat shubuh. Ah, rindu rasanya.

Sungguh, kau sangatlah teramat baik. Saat pertama kali bertemu, sangat terkejut saat kau berkata bahwa kau datang dari Kanada yang jelas jelas berbeda dengan rupa wajahmu. Masih teringat kau sering bertanya tanya tentang Islam kepadaku, dan aku jawab yang aku bisa. Aku sangat ingin mengenalkan Islam kepadamu, tapi apa daya pengetahuanku tentang Islam sangatlah terbatas ditambah lagi kemampuan bahasa Inggrisku yang tak seberapa. Ah kenapa ilmu agamaku masih rendah? Aku tahu kamu pasti ingin mengerti lebih banyak kan?

Dan teringat pula kau sering memberikan pisang saat pagi hari ketika kau tahu bahwa aku hanya sarapan roti dan selai. Kau juga sering mengajakku untuk bermain bulutangkis. Aku ingin, tapi waktuku selalu terambil oleh tugas tugas kuliah. Aku minta maaf jika aku sering membawa temanku untuk menginap di kamar. Aku tahu kau terganggu, tapi kau hanya tidak enak untuk mengatakannya kepadaku karena kau tidak ingin merusak suasana di kamar ini.

Terima kasih, hanya satu kata itu yang bisa aku katakan. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Pagi ini sungguh sangat syahdu, saat kupeluk erat dirimu dan mengatakan aku janji akan menemuimu saat aku berkunjung ke Kanada nanti. Ya suatu saat nanti akan kupenuhi janjiku itu.

Selasa, 27 Januari 2015

My Roommate (part.1)

Ini ceritaku saat exchange di Nanyang Technological Univeristy , Singapura. Sudah berlalu lama sekali memang, entah kenapa pengen sekali menuliskan cerita ini. 

Jadi ceritanya, selama di NTU, aku tinggal di Asrama dalam kampus. Biasa di sebut Hall of Residence. NTU memiliki 16 Hall of Residences, dan 2 Residences buat Graduate Student. Selain itu disediakan pula apartment-apartment untuk tempat tinggal dosen. Para mahasiswa yang exchange akan ditempatkan secara acak ke salah satu Hall tersebut. Kita tidak bisa memilih Hall mana yang akan kita tempati, kasur mana yang akan kita tiduri, dan dengan siapa kita tinggal. Tapi, tidak semua mahasiswa exchange akan mendapatkan Hall, karena kapasitasnya yang terbatas. Terpaksa, bagi yang tidak mendapatkan Hall ini harus menyewa apartment disekitar kampus yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan tinggal di Hall. Tak seperti mahasiswa Echange lain, sebagai TF LEaRN scholars, kita diberikan keistimewaan untuk tinggal di Hall NTU. Tujuannya agar kita bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan belajar di NTU dengan cara berinteraksi dengan mahasiswa lokal yang tinggal di Hall itu. Aku sendiri tinggal di Kamar 66-1-1364R, Hall 14. Itu bukan sembarang nomor loh, ada artinya. 66 itu menunjukan Blok, 1 itu menunjukan lantai, 1364 menunjukan kamar dan R menunjukan posisi kasur kita. Hebat ya, bisa dibikin kode semacam itu, sehingga setiap mahasiswa yang tinggal di Hall, memiliki kode yang berbeda. TF LEaRN scholars lain yang tinggal satu Blok adalah Dianty, dari UGM. Dia tinggal di Lantai 3. Memang kalau disini, mahasiswa dan mahasiswi bisa tinggal di Blok dan Hall yang sama, hanya berbeda lantai saja. Biasanya mahasiswi menempati Lantai atas, dan mahasiswa tinggal di kamar yang berada di lantai bawah. Ada pagar besi yang membatasi keduanya. Namun, tetap saja bisa dilalui dengan kunci yang diberikan ke kita. Ngomong-ngomong tentang kunci, disini sudah canggih loh. Kita diberi 3 kunci, 1 kunci kamar, 1 kunci lemari dan 1 kunci jendela. Kunci lemari dan kunci jendela bentuknya sama dengan kunci-kunci pada umumnya. Namun kunci kamar yang beda. Bukan seperti kunci biasa. Bentuknya lingkaran kecil. Cara kerjanya tinggal sentuhkan ke pegangan pintu, dan hap, secara ajaib pintu bisa terbuka. Kalau mau keluar dari kamar, tinggal tutup pintu dan otomatis akan terkunci. Jadi kita harus berhati-hati jangan sampai menutup pintu dengan kunci kamar tertinggal di dalam. Pilihannya 2, tidak bisa masuk atau MEMBAYAR DENDA. Ya, kita bisa meminta untuk dibukakan kamar, asal membayar denda. Dendanya 30 SGD. Terlihat sedikit memang, tapi buatku itu bisa buat makan selama 3 hari!

Mari kembali ke tujuan kenapa tulisan ini dibuat. Supaya cepet kelar aja sih sebenernya. Hehe. Kamarku tipenya shared room, artinya satu kamar ditempati oleh 2 orang. Ya, selama 5 bulan kedepan aku akan berbagi, bukan cuma berbagi kamar, tapi juga berbagi cerita.

Namanya Brian Won, mahasiswa asal Kanada yang berdarah Chinese. Dia mahasiswa Jurusan Business di University of Ottawa. Memang katanya banyak keturunan Chinese yang tinggal di Kanada. Saat perkenalan pertama kali, aku kurang jelas mendengar namanya. Dia juga begitu, susah untuk melafalkan namaku. Dia memanggil namaku dengan ‘Engga’, ya karena huruf A diawal kalimat lazimnya dibaca E. Tapi ya gapapa lah. Haha.

Kami saling bertanya satu sama lain mengenai Umur, kenapa Exchange di NTU, berapa banyak dari Kanada, berapa lama dari Kanada ke sini, dan pertanyaan-pertanyaan lain. Aku kira ini ajang untuk memberi first impression kepada orang luar tentang orang Indonesia. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, tentu dia tak luput untuk menanyakan segala macam tentang Islam. Awalnya dia melihat aku sholat shubuh di Kamar sekitar jam 5.30 Waktu Singapura. Dia bertanya apakah semua orang islam melakukan Ibadah sepagi ini disaat orang lain terlelap tidur. Aku jawab ya. Islam mewajibkan pengikutnya untuk melakukan Ibadah, yang disebut sholat 5 kali sehari. Aku jelaskan kapan saja waktunya, kenapa menghadap kiblat, gimana kalau tidak melaksanakan sholat. Dia agak terkejut karena baru tau kalau Islam mewajibkan semua itu. Aku juga bercerita kalau Islam melarang untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram, seperti Babi, alkohol atau makanan/minuman yang mengandung hal yang diharamkan tersebut. Dia bertanya gimana cara membedakan halal atau haram. Aku kasih tau bahwa makanan yang halal itu ada logo dan sertifikatnya dari Lembaga Islam, kalau di Singapura namanya Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS). Aku kira di negara lain juga sama. Walaupun dengan bahasa Inggris yang sedikit terbata-bata karena banyak istilah dalam Islam yang aku tidak tahu bahasa Inggrisnya, namun aku yakin dia mengerti. Jadi, kamu sebagai orang muslim wajib menguasai Bahasa Inggris agar bisa menjelaskan bagaimana Islam sehingga mereka yang memandang Islam dari luarnya saja, bisa tercerahkan dengan penjelasan-penjelasan kita. Dari situ kami mulai akrab dengan banyak bercerita tentang diri kami masing-masing.

Suatu saat aku dikerjai olehnya. Saat itu hari minggu, dan aku malas sekali untuk keluar. Dia membawa makanan semacam biskuit ke dalam kamar, dan memberikannya untukku. Aku yang sedang duduk di depan laptop sambil menonton TV menerimanya dengan senang hati. Tanpa bertanya ini halal atau tidak, aku langsung saja buka dan memakannya. Tiba-tiba dia tertawa, dan mengatakan, “Angga, are you sure it’s halal?”. Seperti tersambar petir, Aku tentu terkejut dan memuntahkan makanannya (maaf tidak di sensor). Kemasan snacknya bertuliskan huruf-huruf chinese yang aku tak mengerti apa artinya. Aku panik. Dia tertawa lagi, “Don’t worry angga, it’s halal. You can see halal logo on the back side”. Aaah. Aku lega. Supaya tak terlihat orang yang panik, aku menjawab “I know it’s Halal, I just wanna see whether you’re a nice or bad guy!” dia tertawa lagi. Sepertinya dia puas mengerjaiku. 

Tak mau membalas keusilannya, aku sengaja membuatkan sarapan pagi untuknya. Sederhana saja, aku membeli ayam di Giant lalu merebusnya dengan Bumbu Instan yang aku bawa dari Indonesia. Aku campurkan dengan bawang goreng dan kecap. Dia belum bangun. Aku ada kelas pagi saat itu. Jadi aku suguhkan saja di Mejanya, sambil menuliskan “Brian, this is special Indonesian breakfast. I’m sure it’s very delicious” Aku juga menambahkan logo dan tulisan halal di mangkuknya. 

***