Pages

Sabtu, 21 Maret 2015

Very Beginning of New Life Journey

Ditengah-tengah penatnya pengerjaan Tugas Akhir yang hampir menguras waktu, tenaga, pikiran sampai isi dompet, saya ingin berbagi cerita mengenai beasiswa yang baru saja saya terima mulai dari proses sampai tips dan triknya. Semoga bermanfaat!

Sebelumnya, saya ingin mengumumkan bahwa Alhamdulillah saya diterima di Tohoku University melalui program International Environmental Leadership Program (IELP). Program ini diselenggarakan oleh Graduate School of Environmental Studies. Program ini sebenarnya salah satu dari banyak Priority Graduate Program (PGP) yang dibiayai oleh MEXT atau yang lebih dikenal dengan Monbukagakusho. Program-program yang lain bisa dilihat di web ini. Insyaallah, saya akan menjalani kuliah S2-S3 selama lima tahun di kampus yang terletak di kota Sendai tersebut.

Saya akan mulai cerita dari awal. Bulan November akhir tahun lalu, salah satu dosen di Jurusan mengumumkan bahwa sedang ada pendaftaran IELP untuk tahun 2015 dan ditempel di mading depan Tata Usaha Teknik Material dan bagi yang berminat bisa menghubungi beliau. Awalnya saya kurang tertarik, karena alasan pertama adalah Tohoku University/Tohoku Daigaku atau biasa disingkat Tohokudai bukan kampus impian saya, walaupun Jepang masuk dalam daftar ‘must visit countries’. Alasan kedua karena melihat dari judul programnya, sangat jauh dari minat dan topik tugas akhir saya. Jadilah saya abaikan pengumuman itu. Selain pengumuman yang ditempel, kakak kelas saya (Teknik Material 2010) yang diterima diprogram IELP 2014 memposting pengumuman lebih detail. Setelah saya lihat-lihat, ternyata kita boleh mengambil jurusan yang berafiliasi dengan Graduate School of Environmental Studies (GSES). Dari situ mulai kepo mengenai program ini. Mulai dari tanya-tanya sampai mencari semua Informasi tentang Tohokudai.

Setelah membaca dan memahami persyaratannya, saya memberanikan diri untuk menghadap dosen yang memberi pengumuman untuk mengatakan bahwa saya minat ikut program tersebut. Setelah ngobrol, saya kira akan diberikan kontak professor disana, tapi ternyata harus mencari Professor  sendiri. Walaupun sudah cukup pengalaman dalam mengontak dan berdiskusi dengan professor di NTU lewat email, tapi ini berbeda. Saya akan mengontak orang yang tak saya kenal, dan dia tak kenal saya. Memang, dalam salah satu proses Pre-application IELP ini, semua pendaftar harus sudah diterima oleh seorang Professor di Tohokudai, kalau tidak, maka aplikasinya tidak akan diterima.

Next, saya jelajahi semua lab yang ada afiliasi dengan GSES, dan ada beberapa lab yang sangat dekat dengan topik tugas akhir salah satunya Environmental Inorganic Material Chemistry Laboratory yang dikomandani oleh Prof. Tsugio Sato dan Assoc. Prof. Shu Yin. Melihat research topic dan publikasinya, sepertinya sesuai minat saya di sintesis nanomaterial untuk berbagai aplikasi khususnya lingkungan.

Pagi hari, sekitar jam 5 pagi, saya mengirim email kepada Prof. Sato, dan berharap bisa segera dibalas, karena deadline aplikasi tinggal 2 minggu lagi. Tapi, sampai esok harinya tak ada satupun email yang masuk. Padahal, saya sudah memilah-milah kalimat agar menarik untuk dibaca. Usaha tak sampai disini, saya mencoba mengemail kepada Prof. Yin. Tapi sama saja tak ada balasan. Saya mulai mencari lab lain sekaligus berkonsultasi dengan kakak kelas disana. Dia menyarankan agar saya menemui Prof. Kimura di kantor Perwakilan Tohoku University di IRO ITB. Saya mengemail Prof. Kimura untuk membuat janji, dan diminta untuk bertemu setelah makan siang dikantornya.

Kantor perwakilan Tohokudai terletak di lantai 2, gedung IRO ITB. Setelah mencari-cari, akhirnya ketemu juga pintu masuknya. Saya diterima oleh sekretarisnya dan meminta untuk menunggu sebentar. Kimura sensei keluar dari ruangannya. Saya berdiri dan langsung menyalami beliau. Saya bercerita bahwa saya berminat untuk mendaftar program IELP dan sudah menghubungi Professor disana tapi belum mendapatkan balasan. Setelah itu, beliau ‘menginterogasi’ saya dengan beberapa pertanyaan mulai dari IP, TOEFL, CV, Topik TA, dll. Mungkin untuk mengecek kesiapan. Setelah itu, beliau langsung mengambil telepon dan dari pembicaraannya, beliau sedang mengontak GSES langsung supaya memberitahukan Prof. Sato dan Prof. Yin bahwa ada mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di lab mereka. Setelah mengobrol dan meminta advice dari Kimura Sensei, saya izin pamit.

Tak lama berselang, sekitar sore harinya, ada satu email masuk. Tau dari siapa? Dari Prof. Yin! Saya kaget, dan cepat-cepat membaca. Intinya Yin sensei menguncapkan terima kasih sudah interest di topik penelitiannya dan menerima saya di labnya asal saya diterima sebagai penerima beasiswa Monbukagakusho. Senang sekali hari itu. Saya mengulang-ulang membaca email dari Yin sensei, untuk memastikan bahwa saya tidak salah lihat. Haha.

Sejak saat itu, saya berdiskusi mengenai tema besar penelitian yang akan saya geluti selama 5 tahun ke depan. Saya meminta topik apapun asal yang behubungan dengan nanomaterial. Akhirnya setelah satu minggu berdiskusi, disetujuilah topik mengenai “Water Controlled Release Solvothermal Process (WCRSP) of Morphological Controllable Oxide Based Nanomaterial”. Keren kan? Biasa aja sih sebenernya. Hehe. Intinya cuma tentang mengembangkan teknik baru untuk sintesis nanomaterial.
Saya juga tidak lupa untuk melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan untuk pendaftaran. Tidak terlalu sulit jika kita mempersiapkannya dari jauh-jauh hari. Application Form, CV/Resume, Transkrip IP, 2 Recommendation Letter dan Sertifikat Bahasa. Saya masih ingat saat meminta surat rekomendasi ke dosen pembimbing tugas akhir, saya ditolak karena saya belum lulus. Walaupun saya sudah meminta dengan muka yang penuh belas kasih, tetap saja beliau tidak mau. Sedih kan. Tapi, saya selalu memegang prinsip untuk selalu tegas terhadap tujuan, dan fleksibel dengan cara mencapainya. Sehingga saya memutuskan untuk meminta rekomendasi dari dosen yang memberikan pengumuman tentang program ini. Alhamdulillah beliau menyetujui. Selain itu, syarat yang belum saya penuhi yaitu Sertifikat Bahasa. Waktu itu saya cuma ada TOEFL ITP. Walaupun skornya bagus, tapi tidak tercantum dalam persyaratan. Hanya ada TOEFL-iBT, IELTS atau TOEIC. Setelah mengemail panitia, saya diperbolehkan menggunakan TOEFL ITP terlebih dahulu dengan syarat mengirimkan salah satu language certificate diatas. Dengan penuh pertimbangan, akhirnya saya memilih mengambil TOEIC karena selain harganya paling murah, dan waktu tesnya juga setiap hari rabu. Saya daftar di ITC yang terletak di Jakarta dan sertifikat bisa diambil H+1 yang bisa saya langsung saya kirimkan. Ada satu lagi yang paling berkesan, yaitu saat mengirim berkas. Persyaratan semua sudah selesai, tinggal menunggu surat rekomendasi dari kaprodi yang baru pulang dari Hiroshima tepat menjelang batas akhir pengiriman. Saya segera menuju kantor pos di Jalan Asia Afrika. Ditengah perjalanan, hujan tiba-tiba turun deras sekali. Sehingga saat turun dari Angkot, saya lindungi tas dengan jaket supaya tak terkena air. Saya panggil tukang becak untuk mengantarku ke depan kantor pos. Becak satu-satunya alternatif agar berkas-berkas saya tak basah oleh air hujan. Walaupun akhirnya celana dan jaket basah kuyup, namun tak apa, karena isi tas lebih penting. Sesampainya depan kantor pos, ternyata sudah tutup. Saya kecewa. Padahal masih ada waktu 5 menit lagi. Saya mengirim dokumen esok harinya, pagi-pagi sekali, berharap dokumen sampai tepat waktu di Jepang. Saya menggunakan EMS yang memiliki fasilitas tracking number, jadi kita bisa memantau sudah sampai mana dokumen kita. Alhamudillah, dokumen saya sampai di Tohokudai tepat waktu.

Singkat cerita, saya dihubungi oleh Prof. Yin untuk jadwal wawancara. Awalnya, saya akan diwawancarai tanggal 8 Januari 2015 melalui Skype atau WeChat. Saya sudah persiapan dari jauh-jauh hari, mulai dari menginstall ulang Skype untuk windows 8, menginstall WeChat sampai mengecek kestabilan koneksi internet di ITB. Selain itu saya juga sudah mempersiapkan segala kemungkinan pertanyaan yang akan muncul dan serta bagaimana saya harus menjawabnya. Tapi ternyata jadwal wawancara saya diundur jadi tanggal 19 Januari, padahal saya sudah cepat-cepat ke Bandung hanya untuk wawancara. Tapi tak apa, saya yakin ada hikmah dibalik ini.

Tibalah hari wawancara, saya harus jam 7 pagi ke ruang multimedia FTMD agar mendapat koneksi internet yang cepat. Saya dibantu Teknisi IT disana. Jam 8 saya juga melakukan testing dengan Prof. Yin untuk memastikan semua berjalan dengan lancar. Tak lupa juga meminta doa ke orang tua supaya dilancarkan dan berikan hasil yang terbaik. Waktu itu ada 3 orang pewawancara, saya lupa namanya. Tapi salah satunya adalah Prof. Yin tentu saja. Satu persatu secara bergiliran membombardir saya dengan pertanyaan. Alhamdulillah saya bisa jawab dengan lancar, walaupun diawal-awal ada gangguan dengan koneksi internet sehingga harus menunggu selama 15 menit agar kembali stabil. Sekitar 1 jam, wawancara selesai. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas waktu dan kesempatannya. Saya juga mengatakan ini pertama kalinya saya diwawancarai oleh Professor-professor terbaik dibidangnya. Mereka juga menyampaikan beberapa hal salah satunya adalah final announcement yang akan di release tanggal 6 Februari, artinya 3 minggu setelah wawancara.

Sambil menunggu, saya juga sempat mencari-cari beasiswa lain salah satunya Korean Government Scholarship Program (KGSP) ke Korea University untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Sama seperti IELP yang mensyaratkan agar menghubungi Professor terlebih dahulu, maka saya mengemail beberapa professor disana yang akhirnya tak ada satupun email yang dibalas. Ada satu, Prof. Taeyeon, namun itupun saya ditolak dengan alasan labnya sudah penuh. Saya kecewa, karena deadline juga sudah mepet.

Tanggal 4 Februari 2015, saya mendapat pesan dari Kang Zaka bahwa ada 4 orang dari Indonesia yang diterima. Salah satunya Marsetio, Teknik Material 2010 yang memang daftar di lab yang sama. Saat saya tanya siapa 3 orang lainnya, kang Zaka tidak tahu. Tapi dia yakin bahwa saya diterima saat saya tak seyakin itu. Haha. Selama 2 hari saya benar-benar tak enak makan dan tidur (sumpah ini bener) memikirkan pengumuman dan mempersiapkan kemungkinan terburuk, yaitu gagal.

Tanggal 6 Februari, saat itu saya sedang ada kelas. Saya terus-terusan membuka email berharap pengumuman cepat keluar. Ada satu email dari IELP Admission Office bahwa pengumuman telah keluar, dan bisa dilihat di website IELP dengan memasukan password yang dikasih oleh panitia. Saya tidak sabar dan langsung membuka pengumuman itu. Yang pertama saya cari adalah nomor registrasi saya, yaitu GM04204. Dan aku serasa tak percaya, nomor registrasi saya tercantum didaftar peserta yang lolos sebagai kandidat penerima beasiswa Monbukagakusho. Hanya 8 orang yang diterima yang terdiri dari 6 orang master (yang akhirnya saya tau bahwa 4 orangnya dari Indonesia) dan 2 orang doktor. Saat itu perasaan lega sekaligus bahagia ditengah-tengah dosen yang sedang menjelaskan perkuliahan. Saya langsung memberitahukan orang tua melalui pesan singkat dan mengucapkan terima kasih atas doa mereka.

Untuk melengkapi cerita ini, saya ingin membagi tips dan triknya. Bagi kalian yang ingin melanjutkan S2 di Jepang atau Korea, kunci agar bisa lolos adalah diterima oleh salah satu Professor disana. Walaupun persyaratan IPK, TOEFL dan Rekomendasi itu penting,namun masih kalah penting sama syarat yang satu itu. Karena di negara-negara itu, kita menjalani perkuliahan dengan konsep research based, artinya kita setiap hari kerjaannya ngelab. Boleh tidak masuk lab jika ada kuliah saja. Oleh karena itu, coba kirimkan juga paper atau karya tulis yang pernah kalian buat apalagi yang berhubungan dengan topik riset disana nanti. Itu akan memperkuat aplikasi kita. Kendala yang biasanya dihadapi adalah kelengkapan dokumen, ada yang IPnya dibawah syaratlah, ada juga yang bahasa inggrisnya masih jeleklah, belum ada pengalaman ini itulah. Makanya persiapkan dari jauh-jauh hari! Kuliah yang rajin, ikut organisasi buat nambah pengalaman, bikin penelitian sederhana, belajar bahasa inggris, ikut tesnya. Persiapan itu butuh waktu, maka selain investasi uang, waktu adalah bentuk investasi kalau mau dapat beasisawa. Terus saat wawancara, jawab sedetail-detailnya dan sejujur-jujurnya. Sekali lagi, persiapkan dari jauh-jauh hari. Bisa mulai latihan dengan teman agar lidah kita tak kaku saat harus berbicara dengan bahasa Inggris. Baca-baca lagi CVmu, karena pertanyaan bisa muncul dari CV. Saat wawancara, saya disuruh cerita ketika saya pergi ke Jerman dan Singapura. Terakhir dan yang paling penting, jangan lupa minta doa dan keridhoan orang tua agar prosesnya dilancarkan. Ingat, “Ridhaallahi fi ridhalwalidaini”, ridho Allah terletak pada ridho orang tua. Semoga bermanfaat dan menginspirasi!

Bandung, 21 Maret 2014

(c) Angga Hermawan

Minggu, 15 Maret 2015

Chasing A Flight

Singapura, 9 Mei 2014
          Sudah 2 bulan ini aku membuat perencaan untuk melakukan perjalanan solo backpacker ke beberapa negara ASEAN, yaitu Kamboja, Vietnam, Laos dan Thailand. Berbekal browsing, tanya-tanya teman, dan sedikit imajinasi maka jadilah sebuah itinerary. Detail sekali menurutku. Karena, selain budget dan tempat-tempat yang wajib dikunjungi, aku juga menuliskan nama Bus, tempat berangkatnya sampai Merek busnya pun aku tulis. Aku sendiri memiliki tema untuk perjalananku kali ini, yaitu “Lost in ASEAN : One day one city”. Ya karena aku akan pergi ke negara-negara yang aku tak terlalu kenal bahasa dan budayanya.
Hari keberangkatanpun tiba, aku berangkat dari Singapura ke Kuala Lumpur melalui jalan darat. Kenapa harus dari Kuala Lumpur? Karena aku dapat tiket (sangat) murah ke Bangkok lewat Kuala Lumpur dari salah satu low cost airline. Pagi-pagi sekali aku berangkat menuju Imigrasi Singapura lalu dilanjutkan ke Johor Bahru. Dari sana, aku memilih naik bus untuk ke Kuala Lumpur. Ya begitulah rencanaku. Namun, masalah demi masalah bergiliran datang. Saat menaiki MRT, aku sempat ketiduran sehingga harus turun dan naik MRT lagi ke arah sebaliknya untuk menuju Woodlands station. Ini pertama kalinya aku ke Johor Bahru via Woodlands, yang biasanya kucapai via Kranji. Tapi karena ini hari terakhirku di Singapura, jadi ku coba jalan lain, ditambah lagi itu akan memangkas waktu perjalanan, pikirku. Tiba di Woodlands station, aku langsung tanya sana sini menanyakan platform bus nomor 950 yang akan membawaku ke Johor Bahru. Dari kejauhan aku lihat Bus nomor 950 itu. Aku langsung berlari agar tidak ditinggal. “Sorry, sorry, my bus is going to departure” kataku sambil berjalan cepat disela-sela kerumunan banyak orang. Sesaat sebelum sampai, kondektur bus mengisyaratkan agar bus cepat berangkat. “Wait.. wait” pintaku terengah-engah. Malang nasibku, bus tidak menghiraukan permintaanku. Ya itulah Singapura. Berangkat jam segini ya harus jam segini. Kamu telat, kami tinggal. Jadilah aku harus menunggu sampai Bus berikutnya datang.
Waktu terus berputar, sudah hampir 20 menit berdiri di platform ini, yang ku tunggu tak kunjung datang. Padahal bus dengan nomor lain datang dan pergi. Aku coba coba tanya ke petugas, katanya bus datang tiap satu jam sekali. Sempat berpikir untuk ke Kranji MRT dan menaiki bus nomor 170 yang frekuensi kedatangannya lebih cepat. Namun ketidakpastian jadwal kedatangan bus membuatku ragu juga. Bagaimana kalau saat aku pergi ke Kranji, bus nomor 950 itu datang? Aku lihat jam tanganku, masih ada sekitar 8 jam sebelum jadwal flight ku yang akan lepas landas pukul 18.45 waktu Malaysia. Kurasa masih cukup, jadi aku putuskan untuk menunggu. 20 menit telah berlalu, tibalah si Bus 950. Bergegas aku masuk ke Bus beserta penumpang lain dengan tujuan yang sama, Johor Bahru.
Singkat cerita, setelah melewati Imigrasi Woodlands Checkpoint dan Johor Bahru Checkpoint yang memakan waktu sekitar satu jam, aku sampai di Terminal Larkin, Johor Bahru. Seperti biasa, terminal ini sudah cukup ramai. Hiruk pikuk penumpang, calo-calo yang berseliweran serta bus dengan tujuan berbagai kota di Malaysia nampak sudah menjadi rutinitas di terminal ini. Aku langsung bergegas mencari kaunter Bus tujuan KL dengan jam keberangkatan secepat mungkin. Aku tak mau lagi menunggu seperti di Woodlands tadi. “KL, KL, berangkat sekarang” teriakan dari calo yang mulai menawarkan tiket tujuan KL. Aku tidak serta merta langsung tertarik, karena harganya sudah di mark up sekian ringgit dan cukup mahal dari harga normal. Aku juga harus tetap memegang teguh bugdet plan yang aku buat selama 2 bulan ini, agar tidak overbudget. Setelah berputar-putar dan tidak mendapatkan jam yang aku mau, aku menemukan kaunter dengan jadwal keberangkatan yang pas menurutku. Jadilah aku membelinya walaupun sedikit lebih mahal dari harga normal. Tidak apa, ini sedang keadaan darurat. Aku diantarkan ke platform bus oleh seorang wanita yang tidak lain adalah penjaga kaunter. Aku diminta menunggu. Bus akan datang sekitar pukul 12.15. Masih ada 6 jam lagi sebelum pesawatku berangkat.
Ternyata oh ternyata, bus ku terlambat 15 menit. Walau begitu, bus tidak langsung berangkat. Bus harus menunggu penumpang lain dari berbagai calo, ditambah lagi supir bus juga keluar untuk makan siang. Memang calo disini sudah terkoordinasi dengan rapi. Bahkan mereka menggunakan Handy Talkie untuk mengecek bus mana saja yang masih kosong. Tentu dengan harga yang lebih mahal. Makin gregetan. Ingin sekali aku bilang ke kondektur bus agar segera berangkat, tapi di negara orang aku tak bisa melakukan itu. Bisa bisa nanti hanya namaku saja yang pulang ke Indonesia. Jam 1, akhirnya bus pun berangkat. Aku mencoba menenangkan pikiranku, sambil memikirkan berbagai alternatif agar aku sampai di Low Cost Carier Terminal (LCCT) tepat waktu. Tak sadar aku sudah tertidur.
Bus yang aku naiki ternyata berhenti bukan di Bandar Tasik Selatan (BTS), tapi di Terminal Puduraya, Kuala Lumpur. Padahal disitu tidak dilewati oleh KLIA Transit yang akan membawaku ke lapangan terbang LCCT. Aku keluar dari terminal dan bertanya-tanya stasiun MRT atau KTM terdekat untuk menuju BTS. Katanya yang paling dekat itu ya di KL Sentral. Dari sini Aku harus naik Taksi atau Bus. Karena waktu yang semakin sempit, aku memilih taksi. Aku sedikit berdebat dengan sang supir tentang bagaimana cara ke LCCT. Dia mengatakan bahwa tidak ada kereta yang langsung ke LCCT sehingga harus pakai taksi atau bus dari BTS. Tapi aku yakin bahwa di KL Sentral ada KLIA Transit yang menuju ke LCCT. Aku pun meminta untuk diantarkan ke KL Sentral saja, walau sang supir masih bersikeras dengan pendapatnya.
            Setibanya di KL Sentral, aku langsung menuju ke kaunter KLIA Ekspress. Aku berkata bahwa aku ingin menuju ke LCCT. Sang penjaga kaunter mengarahkan Aku untuk menuju KLIA Transit yang terletak tidak jauh dari situ. Tanpa pikir panjang, aku menuju ke sana dan membeli tiketnya. Harganya 12,5 ringgit. Untuk rutenya, memang tidak ada kereta yang sampai ke LCCT. Tapi nanti transit dulu di stasiun salak tinggi kemudian naik bus ke LCCT. “How long does it take to LCCT?” tanyaku. “It’s about 45 minutes, and the next train will departure in 12 minutes” jawab salah satu penjaga kaunter sambil menyerahkan tiketku. Masih ada sekitar 3 jam lagi. Aku sedikit tenang.
             Sekitar 25 menit, keretaku sampai di stasiun Salak Tinggi. Dan bus sudah menunggu. Aku melihat jam tanganku lagi. Ah masih ada waktu satu setengah jam. Aku memutuskan untuk sholat dahulu, karena sudah memasuki waktu ashar, sedangkan sholat dzuhurpun belum aku tunaikan. Jadilah aku menunaikan sholat jama’ disana. Setelah selesai, aku meneguk segelas air mineral yang tersedia di mushola kecil tersebut. Rasanya haus harus berkejar-kejaran dengan waktu.
            Akupun keluar dari gate dan menuju bus yang sudah terparkir didepan stasiun. Tapi aneh, keadaan dalam bus masih sepi. Hanya aku sendiri dan sang supir. “Pak, jam berape bus ini berangkat?” tanyaku dengan logat sok melayu. “Tunggu kereta berikutnye datang, sekitar 30 menitan lagi la” jawabnya. Berarti sekitar jam 17.25 bus itu akan berangkat. Aku semakin khawatir. Tapi aku sekali lagi menenangkan diri mengingat perjalanan hanya 25 menit dan waktu check-in bisa 45 menit sebelum berangkat. Kereta berikutnya tiba. Para penumpang yang akan menuju LCCT pun naik bus yang sama. Kebanyakan adalah warga asing.
            Pukul 17.50 aku sampai di LCCT. Tidak sesuai dengan dugaanku, disana ramai sekali. Lalu, Aku bergerak cepat menuju kaunter check-in. Sialnya, aku harus melalui X-Ray Scanning dulu. Saat itu antriannya sangat panjang. Pasti tidak akan sempat untuk check-in. Saat mengantri, aku melihat dipapan pengumuman digital bahwa waktu check-in penerbangan ke Don Muang Airport, Bangkok, sudah ditutup. Aku merasa was-was dan sedikit putus asa. Tapi aku tak hilang akal. Aku berlari menuju antrian paling depan dan berkata “Could i go ahead please? My flight is going to departure, i don’t want to be late” aku memohon dengan napas tersengal sengal. Mungkin karena mereka kasihan melihatku, akhirnya aku diizinkan untuk masuk duluan. Setelah itu, aku menuju kaunter dan menanyakan apakah aku masih bisa check-in atau tidak sambil menyerahkan passportku. Kemudian dia sejenak menelepon untuk melakukan konfirmasi. Tidak lama kemudian dia memberikan tiket penerbanganku. Aku terima tiket itu mengucapkan terima kasih. Sang kaunter membalas dengan senyum manisnya. Setelah melewati beberapa proses dibandara seperti cap imigrasi, pemeriksaan tas dan barang bawaan yang tak kalah menengangkan, sampai sampai namaku sudah dipanggil-panggil untuk segera menaiki pesawat. 10 menit sebelum berangkat, aku tiba didepan pintu besi terbang itu. “Bangkok, I’m coming. Terima kasih ya Allah” aku berkata dalam hati. Aku duduk di dekat jendela. Perjalananku hari itu aku akhiri dengan melihat tenggelamnya matahari diantara awan-awan. Lembayung senja menambah cantik dan syahdunya suasana. “Maha Besar Allah yang telah menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya” decakku kagum. Ya Allah, tanpa pertolongan-Mu, aku tak bisa melanjutkan perjalananku, tak bisa menjelajahi bumi-Mu dan mungkin tak bisa menuliskan cerita cerita hikmah dibalik semua rencana-Mu. Lalu, aku pun terlelap.

***
Next Story will be uploaded soon here

Sabtu, 07 Februari 2015

My Roommate (part.2)

Sepulang dari kuliah, aku bergegas menuju kamar karena sudah tak sabar melihat reaksinya ketika aku buatkan sarapan pagi. Ketika aku masuk kamar, ku lihat dia tak berada di kamar. Mungkin teman kamarku ini sedang kuliah pikirku. Aku lihat, semangkuk sarapan pagi yang ku sajikan, di lahap habis olehnya. Aku senang, dia suka masakanku. Walaupun hanya bermodal bumbu instan.

Malam harinya, ketika kami berdua sedang duduk menghadap laptop masing-masing, aku memberanikan diri untuk bertanya.

“How was your breakfast, Briant?”

“Thank you so much Angga, it was one of my best breakfast ever. I just notice that halal food is delicious”


Aku puas mendengarnya. Kesempatan ini aku gunakan untuk berbagi cerita tentang seluk beluk makanan halal. Bahkan aku sebutkan hasil riset bahwa makanan halal baik untuk kesehatan. Satu lagi ilmu yang aku bisa tularkan kepadanya.

Hari hari di NTU, kami lewati dengan kesibukan masing-masing. Aku sibuk dengan kegiatan TF LEaRN ku, dan dia dengan kesibukannya. Namun kami tetap mengobrol banyak hal dikamar.

Namun, aku lihat akhir-akhir ini sikapnya berubah menurutku. Yang awalnya aku kenal dia merupakan mahasiwa yang baik, tapi seketika ada yang berbeda darinya. Mulai dari dia membawa beberapa botol bir ke kamarnya sampai membawa teman wanitanya ke dalam kamar, malam-malam pula. Tentu aku merasa sedikit risih dengan keadaan ini. Jelas saja, wanita masuk ke dalam kamar, malam hari dengan pintu tertutup. Aku mengira wanita itu adalah pacarnya, tapi belakangan aku tahu bahwa dia sesama anak exchange dari kanada. Aku sebenarnya tak terlalu khawatir sampai suatu saat dia membawa 3 teman lainnya masuk ke kamar. 2 perempuan dan 1 laki-laki. Mereka berempat mengobrol dan sesekali bercanda. Tentu aku agak terganggu dengan suara mereka karena aku sendiri sedang belajar materi ujian yang aku cicil. Parahnya lagi, dia membuka bir yang dia simpan di atas lemarinya dan meminumnya bersama mereka. Aku tak peduli dengan kelakuan mereka, tapi aku sungguh kesal dengan bau bir yang seketika menyebar ke seluruh penjuru kamar. Aku sesungguhnya tak suka saja baunya. Sedikit membuatku pusing. Bayangkan saja, suara bercandaan mereka dan bau bir yang menyengat. Bagaimana tidak membuatku kesal. Aku yang memakai earphone pura-pura tak menghiraukan mereka walau dalam hati sangat menggerutu. Mereka mengajak ngobrol denganku dan teman perempuannya mencoba menawarkan aku untuk minum juga, tentu aku menolak. Saat ditanya mengapa, aku jawab bahwa aku muslim dan tak boleh untuk minum bir. Brian paham dan menjelaskan kepada mereka. Untungnya aku sudah jelaskan sebelumnya pada teman sekamarku ini, sehingga aku tak perlu repot-repot lagi menjelaskan. Karena sudah tak tahan lagi, aku tutup laptopku dan menuju tempat tidur. Aku berbaring sambil kututupi wajahku dengan bantal, agar tak terlalu mencium baunya. Aku pun tertidur walaupun tak nyenyak.

Keesokan harinya saat aku bangun untuk sholat subuh, aku sangat kaget ketika melihat salah satu teman perempuannya tengah tertidur bersama temanku itu. Ya, tertidur di atas kasur yang sama. Bagi mereka ini hal yang wajar, tapi bagiku tidak. Ingin aku mengatakannya. Tapi aku takut merusak suasana kamar. Aku pernah mengajak teman dari Indonesia menginap di kamarku. Aku yakin ia terganggu. Namun sama halnya denganku, segan untuk berbicara jujur.

Lagi, 3 malam berikutnya dia membawa teman-temannya ke kamar. Tapi kali ini bukan untuk minum minum. Aku lihat barang-barangnya mulai dikemasi satu persatu. Seprai, baju-baju dan semua peralatannya. Aku penasaran, padahal ini masih awal bulan April dan masih ada 1 bulan lagi sebelum kuliah berakhir. Tiba-tiba ia menghampiriku, dan mengatakan bahwa dia akan pulang ke negaranya esok hari. Aku sontak kaget, mendadak sekali. Dia bercerita bahwa Ibunya sedang sakit dan memintanya untuk segera pulang. Aku masih tak percaya.

Aku ikut membantu membereskan barang-barangnya. Dia banyak menawarkan banyak barang yang sekiranya tak akan dibawa pulang. Aku terima dengan senang hati. Aku juga tak lupa memberikan kenang-kenangan berupa baju batik yang sudah aku siapkan sebelumnya.

Malam itu aku tak bisa tidur. Aku masih berharap ini mimpi, dan ingin cepat cepat bangun. Tapi ini memang nyata. Aku putuskan saja tidak tidur malam itu, aku rebahkan badanku di atas kasur sambil menyembunyikan mukaku di bawah selimut. Aku cuma ingin menghabiskan malam ini dengan memutar ulang memoriku bersamanya. Aku harap dia menganggapku benar benar tidur.

Tepat pukul 5 pagi, taksi pun datang menjemput. Aku masih pura-pura tidur. Dia sudah bersiap siap di depan pintu kamar. Dia berkata “see you next time my beloved room!”. “klap” pintu kamarpun tertutup. Aku bangun dan mengejarnya. Aku pikir ini kesempatan terakhirku untuk melihatnya sebelum dia terbang ke negara asalnya. Di depan pintu hall, aku memanggil namanya dan aku segera menghampiri untuk mengucapkan salam perpisahan. Aku memeluknya erat, tak terasa mataku pun berkaca-kaca.

Pagi ini sungguh penuh haru. Aku merasa sedih dengan kepulangannya. Aku kesal kenapa dia tak mengatakannya lebih awal? Kenapa? Sehingga aku tak kan sesedih ini. Aku akan lebih siap. Tapi aku mengerti, orang tuanya lebih membutuhkan dirinya daripada menghabiskan waktunya disini. Aku hanya bisa mendoakan Ibumu supaya lekas sembuh.

Aku melambaikan tangan tanda salam perpisahan. Beberapa saat kemudian supir taksi menyalakan mesin mobilnya. Semuanya sudah siap. Dia masuk, tanpa melihat ke arahku. Taksi ini pun berjalan kemudian menghilang di persimpangan jalan. Aku kembali ke kamar tapi aku merasa ada yang berbeda, sepi sekali. Aku tak melihat lagi saat kau bemain game, atau ketika kau masih tidur saat aku sholat shubuh. Ah, rindu rasanya.

Sungguh, kau sangatlah teramat baik. Saat pertama kali bertemu, sangat terkejut saat kau berkata bahwa kau datang dari Kanada yang jelas jelas berbeda dengan rupa wajahmu. Masih teringat kau sering bertanya tanya tentang Islam kepadaku, dan aku jawab yang aku bisa. Aku sangat ingin mengenalkan Islam kepadamu, tapi apa daya pengetahuanku tentang Islam sangatlah terbatas ditambah lagi kemampuan bahasa Inggrisku yang tak seberapa. Ah kenapa ilmu agamaku masih rendah? Aku tahu kamu pasti ingin mengerti lebih banyak kan?

Dan teringat pula kau sering memberikan pisang saat pagi hari ketika kau tahu bahwa aku hanya sarapan roti dan selai. Kau juga sering mengajakku untuk bermain bulutangkis. Aku ingin, tapi waktuku selalu terambil oleh tugas tugas kuliah. Aku minta maaf jika aku sering membawa temanku untuk menginap di kamar. Aku tahu kau terganggu, tapi kau hanya tidak enak untuk mengatakannya kepadaku karena kau tidak ingin merusak suasana di kamar ini.

Terima kasih, hanya satu kata itu yang bisa aku katakan. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Pagi ini sungguh sangat syahdu, saat kupeluk erat dirimu dan mengatakan aku janji akan menemuimu saat aku berkunjung ke Kanada nanti. Ya suatu saat nanti akan kupenuhi janjiku itu.

Selasa, 27 Januari 2015

My Roommate (part.1)

Ini ceritaku saat exchange di Nanyang Technological Univeristy , Singapura. Sudah berlalu lama sekali memang, entah kenapa pengen sekali menuliskan cerita ini. 

Jadi ceritanya, selama di NTU, aku tinggal di Asrama dalam kampus. Biasa di sebut Hall of Residence. NTU memiliki 16 Hall of Residences, dan 2 Residences buat Graduate Student. Selain itu disediakan pula apartment-apartment untuk tempat tinggal dosen. Para mahasiswa yang exchange akan ditempatkan secara acak ke salah satu Hall tersebut. Kita tidak bisa memilih Hall mana yang akan kita tempati, kasur mana yang akan kita tiduri, dan dengan siapa kita tinggal. Tapi, tidak semua mahasiswa exchange akan mendapatkan Hall, karena kapasitasnya yang terbatas. Terpaksa, bagi yang tidak mendapatkan Hall ini harus menyewa apartment disekitar kampus yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan tinggal di Hall. Tak seperti mahasiswa Echange lain, sebagai TF LEaRN scholars, kita diberikan keistimewaan untuk tinggal di Hall NTU. Tujuannya agar kita bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan belajar di NTU dengan cara berinteraksi dengan mahasiswa lokal yang tinggal di Hall itu. Aku sendiri tinggal di Kamar 66-1-1364R, Hall 14. Itu bukan sembarang nomor loh, ada artinya. 66 itu menunjukan Blok, 1 itu menunjukan lantai, 1364 menunjukan kamar dan R menunjukan posisi kasur kita. Hebat ya, bisa dibikin kode semacam itu, sehingga setiap mahasiswa yang tinggal di Hall, memiliki kode yang berbeda. TF LEaRN scholars lain yang tinggal satu Blok adalah Dianty, dari UGM. Dia tinggal di Lantai 3. Memang kalau disini, mahasiswa dan mahasiswi bisa tinggal di Blok dan Hall yang sama, hanya berbeda lantai saja. Biasanya mahasiswi menempati Lantai atas, dan mahasiswa tinggal di kamar yang berada di lantai bawah. Ada pagar besi yang membatasi keduanya. Namun, tetap saja bisa dilalui dengan kunci yang diberikan ke kita. Ngomong-ngomong tentang kunci, disini sudah canggih loh. Kita diberi 3 kunci, 1 kunci kamar, 1 kunci lemari dan 1 kunci jendela. Kunci lemari dan kunci jendela bentuknya sama dengan kunci-kunci pada umumnya. Namun kunci kamar yang beda. Bukan seperti kunci biasa. Bentuknya lingkaran kecil. Cara kerjanya tinggal sentuhkan ke pegangan pintu, dan hap, secara ajaib pintu bisa terbuka. Kalau mau keluar dari kamar, tinggal tutup pintu dan otomatis akan terkunci. Jadi kita harus berhati-hati jangan sampai menutup pintu dengan kunci kamar tertinggal di dalam. Pilihannya 2, tidak bisa masuk atau MEMBAYAR DENDA. Ya, kita bisa meminta untuk dibukakan kamar, asal membayar denda. Dendanya 30 SGD. Terlihat sedikit memang, tapi buatku itu bisa buat makan selama 3 hari!

Mari kembali ke tujuan kenapa tulisan ini dibuat. Supaya cepet kelar aja sih sebenernya. Hehe. Kamarku tipenya shared room, artinya satu kamar ditempati oleh 2 orang. Ya, selama 5 bulan kedepan aku akan berbagi, bukan cuma berbagi kamar, tapi juga berbagi cerita.

Namanya Brian Won, mahasiswa asal Kanada yang berdarah Chinese. Dia mahasiswa Jurusan Business di University of Ottawa. Memang katanya banyak keturunan Chinese yang tinggal di Kanada. Saat perkenalan pertama kali, aku kurang jelas mendengar namanya. Dia juga begitu, susah untuk melafalkan namaku. Dia memanggil namaku dengan ‘Engga’, ya karena huruf A diawal kalimat lazimnya dibaca E. Tapi ya gapapa lah. Haha.

Kami saling bertanya satu sama lain mengenai Umur, kenapa Exchange di NTU, berapa banyak dari Kanada, berapa lama dari Kanada ke sini, dan pertanyaan-pertanyaan lain. Aku kira ini ajang untuk memberi first impression kepada orang luar tentang orang Indonesia. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, tentu dia tak luput untuk menanyakan segala macam tentang Islam. Awalnya dia melihat aku sholat shubuh di Kamar sekitar jam 5.30 Waktu Singapura. Dia bertanya apakah semua orang islam melakukan Ibadah sepagi ini disaat orang lain terlelap tidur. Aku jawab ya. Islam mewajibkan pengikutnya untuk melakukan Ibadah, yang disebut sholat 5 kali sehari. Aku jelaskan kapan saja waktunya, kenapa menghadap kiblat, gimana kalau tidak melaksanakan sholat. Dia agak terkejut karena baru tau kalau Islam mewajibkan semua itu. Aku juga bercerita kalau Islam melarang untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram, seperti Babi, alkohol atau makanan/minuman yang mengandung hal yang diharamkan tersebut. Dia bertanya gimana cara membedakan halal atau haram. Aku kasih tau bahwa makanan yang halal itu ada logo dan sertifikatnya dari Lembaga Islam, kalau di Singapura namanya Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS). Aku kira di negara lain juga sama. Walaupun dengan bahasa Inggris yang sedikit terbata-bata karena banyak istilah dalam Islam yang aku tidak tahu bahasa Inggrisnya, namun aku yakin dia mengerti. Jadi, kamu sebagai orang muslim wajib menguasai Bahasa Inggris agar bisa menjelaskan bagaimana Islam sehingga mereka yang memandang Islam dari luarnya saja, bisa tercerahkan dengan penjelasan-penjelasan kita. Dari situ kami mulai akrab dengan banyak bercerita tentang diri kami masing-masing.

Suatu saat aku dikerjai olehnya. Saat itu hari minggu, dan aku malas sekali untuk keluar. Dia membawa makanan semacam biskuit ke dalam kamar, dan memberikannya untukku. Aku yang sedang duduk di depan laptop sambil menonton TV menerimanya dengan senang hati. Tanpa bertanya ini halal atau tidak, aku langsung saja buka dan memakannya. Tiba-tiba dia tertawa, dan mengatakan, “Angga, are you sure it’s halal?”. Seperti tersambar petir, Aku tentu terkejut dan memuntahkan makanannya (maaf tidak di sensor). Kemasan snacknya bertuliskan huruf-huruf chinese yang aku tak mengerti apa artinya. Aku panik. Dia tertawa lagi, “Don’t worry angga, it’s halal. You can see halal logo on the back side”. Aaah. Aku lega. Supaya tak terlihat orang yang panik, aku menjawab “I know it’s Halal, I just wanna see whether you’re a nice or bad guy!” dia tertawa lagi. Sepertinya dia puas mengerjaiku. 

Tak mau membalas keusilannya, aku sengaja membuatkan sarapan pagi untuknya. Sederhana saja, aku membeli ayam di Giant lalu merebusnya dengan Bumbu Instan yang aku bawa dari Indonesia. Aku campurkan dengan bawang goreng dan kecap. Dia belum bangun. Aku ada kelas pagi saat itu. Jadi aku suguhkan saja di Mejanya, sambil menuliskan “Brian, this is special Indonesian breakfast. I’m sure it’s very delicious” Aku juga menambahkan logo dan tulisan halal di mangkuknya. 

***

Minggu, 28 September 2014

Total Undergraduate Scholarship (TUS) 2014/2015


Seperti biasa, hampir setiap hari saya membuka email untuk mengecek dan membalas email yang masuk. Pukul 10.27, ada satu email masuk. Dari judulya, sepertinya email itu tidak asing bagiku. “Total Undergraduate Scholarship 2014/2015”, Saya buka cepat cepat, dan ternyata saya diterima sebagai Awardee Total Undergraduate Scholarship (TUS).


Ucapan syukur dan sedikit rasa tidak percaya, saya kembali baca baik baik email itu sembari meyakinkan diri saya bahwa memang saya benar benar mendapatkan beasiswa Total Scholarship. Ya, email itu tidak salah menyebutkan nama apalagi salah kirim. Alhamdulillah, rasa syukur kembali kuucap atas nikmat yang begitu besar ini. Pengumuman ini keluar setelah saya haru menunggu selama 2 bulan setelah panel interview yang diadakan di kantor pusat Total E&P Indonesie Jakarta.

Saya sedikit ingin flashback tentang perjalanan saya mendaftar sampai mendapatkan beasiswa ini. Sekitar pertengahan bulan april, saya melihat pengumuman di web karir.itb.ac.id tentang pendaftaran TUS ini. Saat itu saya masih berada di Singapura, menjalani program Exchange selama satu semester di Nanyang Technological University. Tentu ada sedikit keraguan untuk mendaftar, karena harus mengirimkan berkas-berkasnya ke kantor Career Center ITB. Setelah ngobrol dengan salah satu teman saya, Taufiq, yang juga anak exchange dari UGM, akhirnya saya memutuskan untuk (coba-coba) mendaftar, dengan konsekuensi biaya pengiriman yang cukup mahal dari Singapura ke Indonesia, serta pengiriman yang memakan waktu sekitar 2 minggu. Begitulah informasi yang saya dapat dari searching di google. Satu persatu berkas-berkas saya scan dan print, tidak lupa juga membeli amplop dan perangko di toko buku disini. Setelah essay dan semua berkas lengkap, saya masukan amplop berperangko tersebut ke postbox yang tersedia di kampus, yang disediakan oleh Singapore Post. “Bismillah, semoga ini menjadi rezeki saya” kataku dalam hati. Saya kirimkan berkas jauh-jauh hari dari deadline.

Namun, hati ini rasanya belum yakin apakah surat itu sampai atau tidak ketempat tujuan. Kekhawatiran itu muncul akibat beberapa cerita tentang kurang profesionalnya karyawan PT. Pos Indonesia. Akhirnya, saya memutuskan untuk meminta bantuan teman saya di Indonesia, Kirani, untuk mengeprintkan semua berkas, serta menulis ulang essay, lalu diberikan ke Dhika, untuk diserahkan ke kantor Career Center. *ribet banget ya* hahaha. Setelah semua beres, tinggal menunggu dan berdoa.

Tanggal 13 Mei, ketika saya berada di Vientiane, Laos, ada satu email masuk dari Total E&P bahwa saya dinyatakan lolos seleksi berkas dan diundang untuk mengikuti Apptitude test di ITB tanggal 19 Mei 2014, jam 8 pagi. APAAA??!! Itu kan seminggu lagi, dan saya baru sampai di Indonesia tanggal 18 malam harinya, sedangkan saat itu saya masih harus melanjutkan perjalanan saya ke Thailand dan Singapura. Tapi, yasudah, bismillah saja. Semoga lancar.

Setelah mendarat di Bandung, dan merapikan baju-baju, malam hari itu juga saya mencari informasi tentang Apptitute test, karena ini kali pertama saya mengikuti test semacam itu. Ternyata tidak jauh beda tengan tes TPA, tapi tingkatannya saja lebih susah. *Okesip* 

Pagi haripun tiba, saya datang 30 menit sebelum test dimulai seperti yang disebutkan di email. Di GKU Timur, tempat test berlangsung, saya bertemu teman-teman yang sudah saya kenal, seperti Iqbal dan Wahyu. Sambil menunggu, saya berbincang bincang dengan mereka, karena sudah hampir 5 bulan ini tida bertemu. Bertanya kabar, kegiatan saat ini serta cerita-cerita tentang berita kampus yang mungkin saya lewatkan. Senang sekali rasanya banyak pengalaman yang bisa dibagi. “Peserta silahkan masuk” sahut seorang Ibu dari dalam kelas. Saatnya masuk. Pertama kita dijelaskan tentang PT. Total E&P Indonesia serta tentang Industri Minyak dan Gas. *Materi ini sangat penting, nanti saya ceritakan kenapa SANGAT SANGAT penting*. Test pun dimulai, tidak lama, sekitar 1 jam. Menurut saya susah susah gampang, namun perlu ketelitian yang tinggi, terutama di tes Verbal. Setelah selesai, ada sedikit pengumuman tentang seleksi selanjutnya, yaitu FGD, Interview dan Panel Interview.

2 Minggu kemudian, saya dapat email kembali bahwa saya lolos seleksi Apptitude test dan berhak mengikuti FGD. Alhamdulillah. Sekali lagi saya menyiapkan secara sungguh sungguh FGD ini. Banyak tips-tips yang pernah FGD sebelumnya, tapi menurutku itu tergantung orangnya, yang penting be yourself. Saat FGD, kita dibagi menjadi beberapa group, yang satu grupnya terdiri dari 5 orang. Saya satu grup dengan 2 orang dari Teknik Fisika, 1 Orang dari Teknik Elektro dan 1 orang dari Teknik Perminyakan. Kami diberikan sebuah kasus dan dalam 20 menit, kami harus sudah menyampaikan solusinya. Penuh perdebatan, setiap orang bertahan dengan argumennya masing-masing, itulah gambaran dalam FGD kelompok saya. Mengingat waktu yang terbatas, akhirnya harus ada orang yang mengalah, dan saya orangnya. Haha. Demi kelompok, saya rela ngalah deh. *Nyanyi lagu seventeen*

30 menit setelah FGD selesai, pengumuman siapa yang masuk tahap selanjutnya, yaitu Interview, ditempel didinding luar ruangan. Saya menjadi salah satu yang tercantum di daftar itu. 4 teman sekelompok saya juga masuk. Ucapan syukur kembali terucap. Interview diadakan hari itu juga, saya melihat jam dan ternyata masih ada 3 jam lagi. Sip, Insyaallah cukup.

Setelah menunggu sekitar 20 menit, giliran saya pun tiba, saya masuk ruangan. Sudah menunggu satu orang interviewer. Saya lupa namanya. Haha. Setelah berkenalan, pertanyaan interview dimulai dari menceritakan diri kita. Selanjutnya, pertanyaan interview seputar Curriculum Vitae / Resume yang kita kirimkan. Satu persatu pertanyaan saya jawab dengan lancar. “Let’s switch to English” pinta sang interviewer. Agak kaget sedikit sih, karena belum membiasakan ngomong bahasa inggris lagi setelah pulang dari Singapura. Beliau bertanya “Please tell me about your strengths and your weaknesses”. Saya menghela nafas, perlahan lahan saya jawab pertanyaan tersebut walaupun agak ngawang-ngawang sih. Hehe. Selanjutnya beliau mengajukan pertanyaan lain “Why do you apply this scholarship?”, sekali lagi pertanyaan yang membuat saya tertekan, karena memang belum dipersiapkan sebelumya. Akhirnya saya jawab dengan apa yang terlintas dipikiran saya saja saat itu, mesti sedikit agak terbata-bata, tapi jawaban saya terasa sangat meyakinkan. Sebelum wawancara diakhiri, beliau bertanya apakah ada yang mau ditanyakan?, saya tanya saja, “Kapan Pak uangnya beasiswanya di transfer ke rekening saya?”. Beliau menjawab dengan nada bercanda “Saya belum menerima rekening kamu”. Saya tersenyum. Saya berharap beliau terus ingat dengan saya karena pertanyaan saya tadi. Hahaha. “Ok Angga, thank you for coming to interview session today, I wish you luck for your future” pesannya. Saya pun keluar ruangan dengan perasaan lega sekali. Sepertinya hilang beban 1000 ton dikepala ini.

Setelah sekitar 2 minggu menunggu (lagi), saya dinyatakan lolos untuk ke tahap berikutnya, yaitu panel interview di kantor pusat PT. Total E&P Indonesie di Jakarta. Waaah.. Alhamdulillah, ternyata saya diizinkan untuk lolos sampai tahap ini. Untuk transportasi dari Bandung-Jakarta-Bandung akan ditanggung oleh PT. Total selaku penyelenggara, sistemnya reimburse, jadi pakai uang kita dulu, nanti diganti dengan menyerahkan tiket aslinya. Interview dimulai jam 8, berarti saya harus berangkat dari Bandung maksimal jam 4 pagi. Langsung cari-cari travel yang berangkat jam 4 pagi dan berhenti disekitar daerah Jl. Jendral Sudirman, agar dekat dengan kantornya. Ada opsi lain yaitu dengan kereta, namun konsekuensinya harus menginap di Stasiun Gambir karena kereta paling pagi berangkat sekitar pukul 5. Akhirnya pilihan jatuh pada Sarerea Star Travel yang berangkat ke Jakarta Jam 3.30 pagi. Harganyapun cukup terjangkau dan berhenti di sekitaran jalan Sudirman.

Saat malam keberangkatan, saya set alarm jam 3, sekalian makan sahur dulu. Saya pun tidur lebih awal dengan harapan menjadi lebih fresh pada pagi harinya. Namun kenyataan berkata lain, saya bangun jam 3.20, saya tidak yakin apakah alarmnya tidak bekerja atau memang saya yang terlalu enak tidur sampai tidak mendengar alarm. Saya langsung panik karena 10 menit lagi berangkat. Ada niatan untuk memesan tiket lagi untuk keberangkatan jam 4.30, namun setelah diingat-ingat, temen satu kontrakan, Habib, dia lagi ada motor pinjaman dari Labnya. Langsung aku bergegas ke kamar mandi, cuci muka dan sikat gigi, dan membangunkan Habib. “Bib, anterin ke travel yuk” Diapun langsung bergegas menyiapkan motornya. Untungnya jarak antara kontrakan kami dan tempat travel cukup dekat, sekitar 5 menitan. Sesampainya ditempat, mobil sudah bersiap untuk berangkat. Saya bergegas menuju counter untuk melakukan pembayaran. Setelah itu tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada Habib yang telah mengantar saya sampai kesini.

Mobilpun melaju ke Jakarta. Di dalam mobil, saya merasa lapar sekali, karena belum sahur. Tapi mobil tidak akan berhenti di rest area tentunya. Yaudah bismillah saja, semoga Allah menguatkan hari ini. Saya sampai di Jakarta sekitar pukul 5.30 dan langsung mencari masjid terdekat untuk sholat shubuh. Sekalian ganti baju dengan kemeja yang sudah disiapkan malam harinya. Selagi menunggu, saya sempatkan untuk mereview essay dan CV saya. Pukul 7.00 saya menuju kantor PT. Total di World Trade Center II dengan naik Busway. Setelah mencari-cari, dan bertanya sana sini, akhirnya sampai juga di WTC II. Masuk ke dalam saya mengutarakan maksud saya, yaitu untuk interview beasiswa. Saya dipersilahkan masuk dan diberi Visitor ID Card. Setibanya di depan kantor Total, saya diminta menunggu dahulu, karena panelis sedang ada meeting. Saat menunggu, salah seorang kandidat dari UI juga datang. Kami berbincang-bincang sedikit tentang perjalanan kami sampai tahap ini. Ternyata dia juga kenal dengan beberapa teman saya di UI seperti Istimurti, Iena, dan Eneng. Saya minta untuk sampaikan salam saya untuk mereka.

“Bapak Angga Hermawan, silahkan masuk”, giliranku tiba. Saya orang pertama yang interview pada hari itu. Ya masih sekitar 100 kandidat yang masuk ketahap ini. Dan hanya 20 orang saja yang akan terpilih. Kali ini, interviewernya adalah seorang Ibu yang memberikan presentasi tentang PT. Total saat Apptitude test di ITB. Pertanyaan interviewnya pun tidak jauh berbeda dengan interview di ITB, hanya saja semua pertanyaan dalam bahasa Inggris. Pertanyaan terakhir yang cukup membuat kaget adalah pertanyaan beliau tentang apa yang kita ketahui tentang PT. Total E&P Indonesie. Waduuh. Jujur saya kurang memperhatikan pemaparan beliau waktu itu. Namun, saya coba jawab seingatnya saja. Saya takut ini jadi nilai minus bagi wawancara saya. Jadi kamu-kamu yang mendapat kesempatan untuk ikut beasiswa TUS ini, perhatikan baik-baik penjelasannya ya!!

Setelah sekitar 20 menit berada di ruangan, sesi wawancara pun berakhir. Tidak lupa saya tanyakan kapan pengumuman akan keluar. Kata beliau sekitar akhir agustus. Oke noted! Saya pun bergegas pulang ke Bandung karena harus mengejar kuliah jam 2 siangnya. Saya memilih menggunakan kereta dari Stasiun Gambir, memenuhi hasrat naik kereta dari Jakarta ke Bandung yang selama ini masih menjadi angan angan saja. Hehe. Kereta saya pukul 10.20, semoga masih sempat ikut kuliah. Sepanjang perjalanan saya banyak bertemu para turis mancanegara yang akan berkunjung ke kota kembang, Bandung. Ada yang dari Australia, Jerman, Belanda, sampai Amerika pun ada. Saya sampai di Bandung jam 14.00, dan memutuskan untuk tidak masuk kuliah, serta memilih untuk mempersiapkan Ujian yang akan diselenggarakan esok harinya.

Setelah menunggu sekitar 2 bulan tidak kunjung ada kabar, saya berpikiran bahwa saya tidak diterima, mengingat ini sudah lewat agustus. Saya sama sekali tidak menyesal, nothing to lose, karena sudah sampai tahap panel interview saja saya sudah sangat bersyukur, apalagi bisa naik kereta gratis dari Jakarta ke Bandung. Haha. Tapi, Allah memang selalu punya rencana yang tidak bisa kita tebak oleh nalar pikiran kita. Ya, hari ini, 3 September 2014, saya resmi dinyatakan sebagai penerima beasiswa Total Undergraduate Scholarship 2014/2015.

“Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”

Senin, 17 Februari 2014

Hikmah dari Malaysia 2

Hari ke-2, 1 Februari 2014

Diawali dengan bangun kesiangan, sekitar pukul 6.30, langsung sholat subuh (waktu subuh jam 6.10). Dilanjutkan dengan mandi dan menyiapkan itinerary hari ini dengan cara browsing di internet. Tidak lupa juga menyiapkan semua barang-barang yang dibutuhkan saat jalan-jalan, seperti kamera, powerbank, passport, charger, dan sajadah. Untuk pagi ini, rida mengajak saya ke Korea town bersama teman-temannya, katanya sih disuruh dosen bahasa koreanya untuk jalan-jalan kesana.. Lokasi korea town itu di daerah Ampang. Kita harus menggunakan KTM dan MRT untuk sampai sana. Singkat cerita, kita sampailah di Korea Town. Saya kira akan seperti china town di Singapura, eh ternyata cuma terdiri dari kios makanan,restaurant karaoke, dan supermarket saja. Bedanya make bahasa korea, (yaiyalah.. haha..)

Kita memesan makanan korea disana, yang ternyata para pegawainya adalah orang-orang jawa timur. Mereka menjamin makanannya halal. Setelah pesan beberapa makanan yang terkenal di korea, datanglah menu yang kita pesan. Kita diajarin cara masaknya juga. Sebelum dimakan, tentu belum afdhal kalo ngga foto sama makanannya.. hehe.. Makanannya sangat enak, cocok dengan lidah Indonesia. Namun yang ngga mengenakan adalah saat kita bayar. Totalnya 250 RM. Haha.. jadi setiap orang bayar 50 RM. Zzzz.. cukup untuk 10 kali makan itu..  :(
Bareng temen-temen IUKL
Itu orang Jawa Timur loh

Setelah ‘terpaksa’ membayar, mereka menuju tempat karaoke, sedangkan saya menuju Masjid Petronas yang cukup dekat dengan Ampang. Letaknya sangat dekat dengan twin tower, sehingga sangat disayangkan jika tidak diambil gambarnya..
Suasana Setelah Jum'atan di Masjid Petronas

Setelah selesai sholat jumat, tentu tujuan saya berikutnya adalah Twin Tower. Suasananya cukup terik, dan cukup ramai, karena memang sedang Chinese New Year sehingga banyak yang sedang liburan. Setelah ambil beberapa gambar, saya langsung menuju KL Sentral untuk membeli tiket Kereta ke Pulau Penang pada esok hari. Penang terletak di sebelah utara KL, sekitar 6 jam dengan menggunakan kereta. Namun, saya kecewa karena tiket untuk ke Pulau Penang dengan KTM sudah habis terjual bahkan sampai tanggal 3 Februari.. Aaarrrghh.. Salah juga sih, karena ke Penang saat CNY. Yaudahlah, bisa ke Penang pas abis Exam. 

Langsung saja menuju ke Tujuan berikutnya yaitu Batu Caves. Cukup jauh dari KL sentral, namun ada KTM yang menuju kesana. Perjalanannya sekitar 45 menit. Setelah sampai, langsung foto-foto. Hehe. Tapi karena bepergian sendiri, jadi selalu minta fotoin ke sesama turis. Haha. Jadi nih buat para pembaca, kalau mau bepergian, minimal ada pasangannya, biar ada yang bisa motoin.. :D. Oh iya, Batu Caves itu semacam Goa yang menjadi tempat beribadahnya umat Hindu. Terdapat satu patung yang sangat Tinggi yang dilapisi oleh emas. Selain itu dikawasan ini juga terdapat banyak monyet-monyet yang berkeliaran disepanjang tangga menuju Goa. Kadang-kadang monyet-monyet ini sangat jail, karena mengambil topi atau kacamata dari para pengunjung. Mereka kira itu makanan kali..


Ada kejadian yang cukup menarik saat di Batu Caves, yaitu salah kiblat saat sholat ashar. Haha. Karena memang tidak keliatan arah kiblatnya kemana, sehingga hanya mengandalkan feeling. Saya tau setelah ada orang yang sholat ashar juga, dan kita sholat saling membelakangi, dia menghadap ke arah Barat, saya menghadap ke Timur. >_<

Langsung menuju destinasi berikutnya yaitu Masjid Jamek. Letaknya cukup dekat dengan KL Sentral. Namun sebelum ke Masjid Jamek, saya sempatkan turun dulu sebentar untuk mengambil beberapa gambar dari Kuala Lumpur Station. Dulunya ini adalah Stasiun kereta pusat sebelum di Pindah ke KL Sentral.


Setelah itu Ke Masjid Jamek, yang arsitekturnya cukup menarik. Ini dia gambarnya..


Kemudian perjalanan dilanjutkan ke dataran merdeka yang letaknya tidak terlalu jauh dari Masjid Jamek. Cukup jalan kaki sekitar 10 menit. Di daerah dataran merdeka ini terdapat tiang bendera raksasa tempat dimana biasanya rakyat Malaysia memperingati/menggelar upacara kemerdekaan. Di sekitaran dataran merdeka terdapat bangunan-bangunan bergaya eropa klasik. Katanya sih ini adalah bangunan peninggalan bangsa Inggris saat mereka menjajah Malaysia.






Aaaahhhh bangunan-bangunannya membuat saya rindu Eropa. Insyallah semoga secepatnya bisa ke Eropa lagi. Setelah puas berkeliling keliling, lalu menuju ke Masjid Jamek lagi untuk Sholat Magrib dan beli makan malam di sekitaran Masjid. Setelah itu ke China Town dan Pasar seni untuk Beli oleh-oleh.. Salah satunya adalah ini..

Saya langsung menuju ke Twin Tower untuk menikmati suasana malam disana. Daaaaaaan., semakin indah saja pemandangan Twin Tower saat malam hari. Sangat ramai sekalii, sebagian besar mereka adalah turis..Setelah ambil beberapa foto, langsung menuju kembali ke Apartment nya Rida untuk sholat Isya dan mempersiapkan perjalanan untuk hari esoknya.. Oke cukup dulu, nanti dilanjutkan.. :D

Jumat, 14 Februari 2014

Hikmah dari Malaysia 1

Hari Ke-1, 31 January 2014

Jadi ceritanya kuliah libur 4 hari karena ada Chinese New Year (CNY), yaitu hari Jumat sampai Senin. Nah, niatnya sih ngga mau kemana-mana, cuma main disekitar Chinatown aja sambil menikmati ‘crowded’ nya tempat itu saat perayaan CNY.Hanya ingin tau saja, tidak ikut merayakannya. Namun, ternyata semua fasilitas kampus semuanya tutup, termasuk kantin, dan ngga mungkin juga setiap mau makan harus nyari makanan diluar kampus. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut Niken ke Kuala Lumpur.

Janjian untuk berangkat bareng, kita memutuskan untuk mencari rute termurah untuk sampe ke KL. Ada beberapa Opsi : 1) Pesawat, tidak mungkin karena H-1 belum beli tiket ; 2) Kereta, bisa jadi pilihan tapi perlu 8-9 jam untuk sampai di KL ; 3) Bus, ini yang paling mungkin, cukup cepatdan murah. Ada opsi untuk naik Bus dari Singapura langsung KL harganya 40 SGD.. Overbudget, oke akhirnya kita ambil rute Kranji MRT-Woodlands-Johor Baru-Terminal Larkin-Kuala Lumpur.

Kita berangkat ke Kranji MRT, salah satu stasiun MRT di Singapura. Kranji MRT terletak dibagian utara Singapura. Disepanjang jalan, saya melihat pemandangan dari jendela MRT. Ada yang berbeda dari apa yang setiap hari dilihat oleh saya, karena dibagian utara Negara Singa ini masih terdapat banyak hutan, dan belum banyak pembangunanya. Berbeda sekali dengan bagian Barat-Selatan-Tengah dan Timur. Sampai di Kranji MRT, kita naik Bus SBS Transit No.170 untuk menuju Woodlands Checkpoint untuk pemerikasaan Paspor sebelum meninggalkan wilayah Singapura. Sampai di Woodlands, ternyata sangat ramai sekali, sebagian besar diisi oleh warga Singapura yang hendak pulang ke Kampung halaman dan juga dipenuhi oleh turis yang akan pergi ke KL. Setelah paspor dan students pass di cek, kami dipersilahkan untuk menuju tempat pemberhentian bus yang akan membawa kami ke Imigrasi Johor Baru. Bus yang kita tumpangi harus sama dengan bus yang kita tumpangi diawal. Misalnya SBS170, maka kita juga harus naik bus itu lagi sampai di Terminal Larkin. Sama seperti Woodlands, Imigrasi Johor Baru juga sangat ramai, baik yang menuju ke Malaysia ataupun yang menuju ke Singapura. Ada yang unik saat pemeriksaan passport, yaitu saat passport saya di cap oleh seorang wanita, saya mendengar sayup-sayup lagu dengan bahasa yang tidak asing ditelinga saya. Setelah saya mencari arah suara, ternyata itu dari handphone sang penjaga pintu Imigrasi. Dan dia sedang asik mendengarkan lagu “Mau Dibawa Kemana” nya ARMADA. Haha. Ya Allah, ternyata benar kata orang, bahwa musik Indonesia lebih disukai disini ketimbang musik tanah sendiri. Awas aja kalau sampai diklaim sebagai lagu milik Band di Malaysia.. :D Akhirnya kita sampai juga di Terminal Larkin setelah 1,5 Jam (Perjalanan+Antri), oh iya tarifnya hanya 1,6 SGD saja dari Kranji MRT-Larkin Terminal.


Suasana Antri di Woodlands Check Point

Sampai di Terminal Bus Larkin, kami mencari bus yang menuju ke Kuala Lumpur. Jangan dibayangkan Terminal bus ini sama seperti di Indonesia. Disini lebih bersih dan jadwal keberangkatan bus juga teratur. Kami harus berhati-hati untuk membeli tiket bus menuju ke KL, karena bila kami beli di Calo yang banyak berkeliaran, selain harganya lebih mahal juga bisa jadi waktu tempuhnya lebih lama. Sesuai dengan rekomendasi teman saya di KL, kami pilih Causeway link, harganya 34,1 RM atau sekitar Rp 120.000. Namun kami lagi lagi harus menuggu karena bus baru berangkat jam 18.30 padahal ini baru jam 17.00, adzan ashar baru berkumandang. Kami sudah menjama’ sholat sebelum berangkat. Sambil menunggu bus berangkat, saya mencari tempat makan yang murah tentunya, hehe.. akhirnya nemu didalam terminalnya. Nasi+Ati Ampela-2 Tahu harganya cuma 3 RM. Ya sangat murah dibandingkan di Singapura. Setelah makan lanjut keliling-keliling sambil cari Wifi, mengabari teman yang ada di KL kalau kami sudah sampai di Larkin. Akhirnya bus datang, kami pun masuk dan menempati tempat duduk yang tertera di tiket. Busnya cukup nyaman, sama seperti Bus di Indonesia pada umumnya, namun tempat duduknya lebih luas, jadi bisa untuk meluruskan kaki. Didalam perjalanan hanya diisi dengan tidur dan tidur, karena memang tidak ada pemandangan yang menarik, hanya hutan-hutan dan perkebunan sawit. Tidak terasa, 4,5 Jam perjalanan sampai juga di TBS (Terminal Bersepadu Selatan) nama lainnya BTS (Bandar Tasik Selatan). Disini saya mencari Wifi sambil mencari tiket ke tempat teman yang ada di IUKL (Institute of Infrastructure Kuala Lumpur). Saya dan Niken berpisah disini, niken akan stay di tempat sepupunya. Saya naik KLM (Komuter Line Malaysia) ke Serdang harga tiketnya cuma 1 RM. Suasana dalam kereta sangat bersih, nyaman dan tidak ada pedagang.
Suasana di dalam Komuter Line

Setelah sampai di Stasiun Serdang, saya harus naik taksi untuk sampai di Unipark Suria Condominium tempat dimana teman saya tinggal. Setelah tawar menawar dengan supir taksi, akhirnya deal harganya 10 RM, biasanya bisa sampe 15 RM. Didalam taksi ngobrol-ngobrol dengan supir taksinya, mulai dari nama, dari mana, mau kemana, dll. Tentunya pakai bahasa inggris, karena memang lebih nyaman pakai bahasa Inggris daripada bahasa Melayu. Karena, saya takut salah menginterpretasikan kosakata dalam Bahasa Melayu. Sampai di depan Kondo, saya dijemput dan dikenalkan ke beberapa teman-temannya. Sambil makan burger dikantin, sambil ngobrol-ngobrol, cukup asik orangnya, walaupun baru pertama kali ketemu.. hehe.. awalnya kenal di Jejaring Social. Karena sudah malam sekali, saya memilih untuk cepat ke kamar. Setelah mandi dan sholat, akhirnya tidur dengan nyenyak..

Pelajaran hari pertama yang bisa diambil dari Negara Serumpun kita, :

1. Malaysia, khususnya Kuala Lumpur sudah memiliki sistem transportasi yang sudah terintegrasi, terutama kereta api. Tidak seperti Singapura yang hanya punya 1 Jenis kereta yaitu MRT, Kuala Lumpur punya 4 Jenis kereta, yaitu Komuter, KLIA Express, Monorel, dan LRT. Suatu saat kota-kota di Indonesia harus seperti Ini. Masa negara tetangga bisa, kita ngga? Banyak orang-orang jenius di Indonesia. Bandung dan Jakarta sudah memulai, Insyallah di Banten juga harus ada.

2. Terminal Bus di Malaysia sangat rapih, apalagi di TBS, itu sudah seperti Mall. Karena memang disitu pusat pemberhentian utama di KL. Suasanannya nyaman, bersih dan segalanya teratur. Pemesanan tiket bisa dilakukan di konter. Ada sekitar 25 Gate/Pintu keberangkatan bus. Kita harus mencontoh sistem seperti ini, yang melayani perjalanan bus ke berbagai kota di Indonesia. Bisa dimulai dari Pulau Jawa, dengan Jakarta sebagai pusatnya.

Gerbang Masuk TBS

Suasana di dalam TBS

Gerbang Pemberangkatan Bus